Apa Itu Training Growth Mindset? Definisi, Tujuan, Manfaat, Metode, dan Implementasinya

Apa Itu Training Growth Mindset_ Definisi, Tujuan, Manfaat, Metode, dan Implementasinya

Training growth mindset adalah program pelatihan terstruktur yang dirancang untuk membantu individu mengubah pola pikir mereka dari yang cenderung stagnan (fixed mindset) menjadi pola pikir yang terbuka terhadap pertumbuhan, pembelajaran, dan perkembangan berkelanjutan.

Sebagai praktisi HR, kamu pasti sudah sering mendengar istilah growth mindset. Tapi seberapa dalam kamu memahami bagaimana cara mengembangkannya secara sistematis melalui program pelatihan?

Artikel ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin ada di benak kamu, mulai dari definisi, manfaat, materi, hingga cara mengukur keberhasilannya. Mari kita bahas tuntas satu per satu.

Apa Itu Training Growth Mindset?

Training growth mindset adalah program pelatihan terstruktur yang dirancang untuk membantu individu mengubah pola pikir mereka dari yang cenderung stagnan (fixed mindset) menjadi pola pikir yang terbuka terhadap pertumbuhan, pembelajaran, dan perkembangan berkelanjutan.

Program ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang melibatkan refleksi diri, praktik, dan penguatan perilaku baru secara konsisten.

Konsep growth mindset sendiri dipopulerkan oleh Dr. Carol S. Dweck, psikolog dari Stanford University, melalui risetnya selama puluhan tahun dan kemudian dituangkan dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck mendefinisikan growth mindset sebagai keyakinan bahwa kemampuan, kecerdasan, dan bakat seseorang dapat dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, dan bimbingan dari orang lain. Sebaliknya, fixed mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan seseorang sudah “terkunci” sejak lahir dan tidak bisa berubah.

Dalam konteks organisasi, training growth mindset hadir sebagai respons terhadap tantangan nyata yang dihadapi perusahaan, mulai dari resistensi terhadap perubahan, rendahnya inovasi, hingga kurangnya kolaborasi antar tim.

Program ini bisa berlangsung dalam format in-house training, workshop intensif, e-learning, atau kombinasi keduanya (blended learning). Durasinya pun bervariasi, dari sesi satu hari penuh hingga program multi-bulan yang dilengkapi dengan sesi follow-up dan coaching.

Yang membedakan training growth mindset dari pelatihan biasa adalah pendekatannya yang bersifat transformative, bukan hanya transfer ilmu, tapi juga perubahan cara berpikir yang mengakar.

Ini adalah investasi jangka panjang yang, jika dijalankan dengan benar, akan berdampak pada cara karyawan menghadapi tantangan, menerima umpan balik, dan terus belajar sepanjang karier mereka.

Apa Manfaat Training Growth Mindset?

Training growth mindset memberikan manfaat nyata baik bagi individu maupun organisasi secara keseluruhan.

Metode yang Digunakan dalam Training Growth Mindset PRESENTA

Bagi individu, program ini membantu meningkatkan ketahanan mental (resilience), kemampuan belajar dari kegagalan, dan motivasi intrinsik untuk terus berkembang. Bagi organisasi, dampaknya terasa pada produktivitas, inovasi, dan budaya kerja yang lebih sehat dan adaptif.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour (Yeager et al., 2019) menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti intervensi growth mindset mencapai nilai akademik yang lebih tinggi, terutama mereka yang berasal dari kelompok yang kurang beruntung.

Temuan ini konsisten dengan apa yang terjadi di dunia kerja, ketika karyawan percaya bahwa mereka bisa berkembang, mereka cenderung mengambil tantangan lebih besar dan tidak mudah menyerah.

Manfaat Training Growth Mindset Bagi Individu

  1. Meningkatkan resiliensi dan ketahanan mental. Karyawan yang mengikuti training growth mindset menjadi lebih mampu menghadapi tekanan, kegagalan, dan kritik tanpa merasa terpuruk. Mereka belajar melihat hambatan bukan sebagai tembok, melainkan sebagai anak tangga menuju kemampuan yang lebih tinggi.
  2. Mendorong motivasi belajar yang berkelanjutan. Alih-alih merasa cukup dengan kemampuan yang sudah ada, individu dengan growth mindset secara aktif mencari kesempatan belajar, baik melalui pelatihan formal, mentoring, maupun pengalaman sehari-hari di tempat kerja.
  3. Memperkuat kemampuan menerima dan memberi umpan balik. Feedback bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Dalam training growth mindset, peserta dilatih untuk melihat umpan balik sebagai data berharga yang membantu mereka tumbuh, bukan sebagai serangan terhadap harga diri mereka.

Manfaat Training Growth Mindset Bagi Organisasi

  1. Menciptakan budaya inovasi yang berkelanjutan. Ketika seluruh tim memiliki pola pikir tumbuh, ide-ide segar lebih mudah muncul dan diterima. Karyawan tidak takut mencoba hal baru karena mereka tahu bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
  2. Menurunkan tingkat turnover karyawan. Penelitian dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa karyawan yang merasa berkembang di tempat kerja cenderung lebih loyal dan engaged. Training growth mindset menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa dihargai dan didukung untuk tumbuh.
  3. Meningkatkan kolaborasi lintas tim. Pola pikir tumbuh mendorong rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap perspektif orang lain. Ini secara langsung memperkuat kerja sama tim dan mengurangi konflik yang berakar dari ego atau defensivitas.

Baca Juga: Mengenal Microlearning dalam Corporate Training: Metode Pelatihan Masa Depan bagi Profesional

Apa Materi yang Dipelajari dalam Training Growth Mindset?

Dalam training growth mindset, peserta tidak hanya belajar teori, tapi juga diajak untuk mempraktikkan berbagai konsep secara langsung.

Materi yang dipelajari dirancang secara bertahap, mulai dari membangun kesadaran diri, mengubah pola pikir, hingga mengintegrasikan perilaku baru ke dalam rutinitas kerja sehari-hari.

Secara umum, kurikulum training growth mindset mencakup enam modul utama yang saling terhubung dan membangun satu sama lain.

Setiap modul dirancang dengan mempertimbangkan konteks dunia kerja yang nyata, sehingga relevan dan langsung bisa diterapkan oleh peserta.

Materi Utama dalam Training Growth Mindset

Apa Materi yang Dipelajari dalam Training Growth Mindset
  1. Fondasi Growth Mindset vs Fixed Mindset. Modul pertama ini memperkenalkan peserta pada riset Carol Dweck dan bagaimana dua jenis pola pikir ini terbentuk sejak kecil. Peserta diajak melakukan self-assessment untuk mengenali area mana saja dalam hidup mereka yang masih dikuasai oleh fixed mindset.
  2. Neuroplastisitas dan Ilmu di Balik Perkembangan Otak. Materi ini memberikan landasan ilmiah yang kuat bahwa otak manusia secara biologis mampu membentuk koneksi saraf baru sepanjang hayat. Konsep neuroplastisitas ini, yang dijelaskan antara lain dalam karya Dr. Michael Merzenich dalam Soft-Wired (2013), menjadi bukti ilmiah bahwa perubahan pola pikir bukan hanya mungkin, tapi juga didukung oleh sains.
  3. Kekuatan Kata “Belum” (The Power of Yet). Peserta belajar bagaimana mengubah narasi internal dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa.” Perubahan kecil dalam pilihan kata ini terbukti secara signifikan mengubah cara seseorang memandang tantangan dan kemampuan diri sendiri.
  4. Menerima Tantangan dan Belajar dari Kegagalan. Modul ini mengajak peserta untuk menanalisis kegagalan-kegagalan mereka di masa lalu dan menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Menggunakan kerangka After Action Review (AAR), peserta berlatih refleksi yang konstruktif dan tidak menyalahkan diri berlebihan.
  5. Membangun Kebiasaan Belajar yang Konsisten. Berdasarkan prinsip-prinsip dalam buku Atomic Habits karya James Clear (2018), peserta diperkenalkan pada strategi membangun kebiasaan kecil yang, jika dilakukan secara konsisten, akan menghasilkan pertumbuhan yang luar biasa dalam jangka panjang.
  6. Menerapkan Growth Mindset dalam Konteks Tim dan Kepemimpinan. Materi terakhir ini sangat relevan untuk para pemimpin, bagaimana cara memimpin dengan pola pikir tumbuh, memberikan umpan balik yang mendorong pertumbuhan, dan menciptakan psychological safety dalam tim.

Baca Juga: 11 Jenis Pelatihan dan Pengembangan SDM yang Wajib Kamu Ketahui

Siapa Saja yang Wajib Mengikuti Training Growth Mindset?

Training growth mindset bukan hanya untuk karyawan baru atau mereka yang dianggap “bermasalah.” Program ini relevan dan memberikan manfaat nyata bagi semua level dalam organisasi, dari staf operasional hingga jajaran eksekutif.

Bahkan, justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin krusial bagi mereka untuk memiliki pola pikir yang tumbuh dan adaptif.

Penelitian dari Korn Ferry Institute menunjukkan bahwa para pemimpin dengan growth mindset dua kali lebih mungkin untuk mendorong inovasi di organisasi mereka dibandingkan pemimpin dengan fixed mindset. Ini menegaskan bahwa training growth mindset adalah investasi yang relevan di semua tingkatan hierarki.

Berikut adalah kelompok-kelompok yang sangat direkomendasikan untuk mengikuti training growth mindset:

  • Karyawan baru (fresh graduate dan lateral hire) untuk membangun fondasi pola pikir yang tepat sejak awal karier mereka di perusahaan.
  • Manajer dan supervisor yang berperan sebagai role model dan coach bagi tim mereka. Jika manajer tidak memiliki growth mindset, sulit bagi tim untuk mengembangkannya.
  • Tim yang sedang menghadapi perubahan besar — seperti restrukturisasi, digitalisasi, atau merger yang memerlukan adaptasi cepat dan penerimaan terhadap hal-hal baru.
  • Individu berpotensi tinggi (high potentials) yang dipersiapkan untuk peran kepemimpinan yang lebih besar dan perlu mengembangkan ketahanan serta kemampuan belajar yang tinggi.
  • Pemimpin senior dan eksekutif karena pola pikir mereka secara langsung memengaruhi budaya seluruh organisasi.

Sebagai praktisi HR, kamu memegang peran kunci dalam mengidentifikasi siapa yang paling membutuhkan program ini dan kapan waktu yang paling tepat untuk menyelenggarakannya.

Baca Juga: Cara Mengukur Efektivitas Corporate Training dengan 5 Indikator Kinerja Pelatihan

Apa Saja Metode yang Digunakan dalam Training Growth Mindset?

Training growth mindset yang efektif tidak bisa hanya mengandalkan ceramah atau presentasi satu arah. Program ini membutuhkan pendekatan yang aktif, experiential, dan personal sehingga perubahan pola pikir benar-benar terjadi pada level yang dalam, bukan sekadar pemahaman permukaan.

Pilihan metode yang tepat akan sangat menentukan seberapa jauh dampak yang bisa kamu rasakan di organisasi.

Berikut merupakan beberapa metode yang umum digunakan:

Metode Training Growth Mindset yang umum digunakan

Metode Training Growth Mindset yang Umum Digunakan

  1. Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman). Peserta melakukan aktivitas atau simulasi yang dirancang untuk memunculkan reaksi otomatis mereka terhadap tantangan dan kegagalan. Dari sini, fasilitator memandu diskusi mendalam tentang pola respons dan bagaimana mengubahnya.
  2. Reflective Journaling. Peserta diminta untuk menulis jurnal refleksi secara rutin selama program berlangsung. Metode ini terbukti memperkuat pemahaman diri dan mempercepat proses internalisasi growth mindset.
  3. Group Discussion dan Case Study. Diskusi kelompok berbasis studi kasus nyata dari dunia bisnis membantu peserta melihat bagaimana growth mindset (atau ketiadaannya) berdampak pada keputusan dan hasil kerja di organisasi nyata.
  4. Individual dan Group Coaching. Sesi coaching memungkinkan peserta mendapatkan umpan balik yang personal dan disesuaikan dengan tantangan spesifik yang mereka hadapi. Ini adalah salah satu metode paling efektif untuk training growth mindset yang berdampak jangka panjang.
  5. Peer Learning dan Accountability Partner. Peserta dipasangkan satu sama lain untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, dan saling mengingatkan dalam menerapkan growth mindset dalam pekerjaan sehari-hari.
  6. Gamification dan Simulasi Digital. Untuk meningkatkan keterlibatan, beberapa program training growth mindset modern menggunakan elemen gamifikasi seperti poin, badge, dan tantangan yang membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dan kompetitif secara sehat.

Bagaimana Cara Memilih Program Training Growth Mindset yang Tepat?

Memilih program training growth mindset yang tepat adalah salah satu keputusan terpenting yang kamu buat sebagai praktisi HR.

Program yang salah tidak hanya buang anggaran, tapi juga bisa menciptakan sinisme di antara karyawan yang merasa pelatihan tidak relevan atau tidak berdampak.

Kunci utamanya adalah memilih program yang dirancang secara ilmiah, dipandu oleh fasilitator berpengalaman, dan disesuaikan dengan konteks spesifik organisasi kamu.

Sebelum memutuskan, ada baiknya kamu melakukan Training Needs Analysis (TNA) terlebih dahulu untuk memahami secara mendalam apa tantangan nyata yang dihadapi karyawan dan budaya apa yang ingin dibangun oleh organisasi.

Langkah-langkah Memilih Program Training Growth Mindset

  1. Identifikasi kebutuhan spesifik organisasi kamu. Mulailah dengan data survei karyawan, hasil performance review, tingkat turnover, dan feedback dari manajer. Data ini akan membantu kamu memahami apakah masalah yang dihadapi memang berakar pada pola pikir, dan di level mana intervensi paling dibutuhkan.
  2. Pastikan program berbasis riset dan bukti ilmiah. Hindari program yang hanya menjual “semangat sementara.” Pilih vendor yang bisa menjelaskan fondasi teorinya. Apakah mengacu pada riset Carol Dweck, teori pembelajaran orang dewasa, neurosains, atau kombinasinya.
  3. Evaluasi rekam jejak dan portofolio vendor. Tanyakan kepada calon vendor: siapa saja klien mereka sebelumnya, apa hasil yang dicapai, dan apakah mereka bisa memberikan referensi yang bisa kamu hubungi.
  4. Pertimbangkan fleksibilitas format program. Apakah vendor bisa menyesuaikan program dengan kebutuhan kamu? Apakah tersedia opsi in-house training, blended learning, atau online program? Fleksibilitas ini penting terutama jika organisasi kamu memiliki karyawan yang tersebar di berbagai lokasi.
  5. Pastikan ada komponen pengukuran dan follow-up. Program yang baik tidak berhenti di hari terakhir pelatihan. Pastikan vendor menyediakan alat ukur keberhasilan, sesi reinforcement, dan dukungan post-training untuk memastikan perubahan yang terjadi bersifat berkelanjutan.
  6. Bandingkan investasi dengan nilai yang diterima. Harga bukanlah satu-satunya pertimbangan. Hitung potensi return on investment (ROI), berapa nilai produktivitas yang bisa meningkat, berapa biaya yang bisa dihemat dari penurunan turnover, dan sebagainya.

Baca Juga: 4 Keahlian yang Perlu Dimiliki Manajer Baru untuk Memimpin Tim dengan Sukses

Apa Itu Training Growth Mindset? Definisi, Tujuan, Manfaat, Metode, dan Implementasinya 1

Kapan Perusahaan Menyelenggarakan Training Growth Mindset?

Perusahaan dapat menyelenggarakan training growth mindset di berbagai momen strategis, bukan hanya saat masalah sudah muncul ke permukaan.

Idealnya, program ini dijalankan secara proaktif sebagai bagian dari strategi pengembangan SDM jangka panjang, bukan sebagai solusi darurat ketika organisasi sudah dalam krisis.

Beberapa waktu yang paling strategis untuk menyelenggarakan training growth mindset antara lain di awal tahun sebagai bagian dari kick-off program pengembangan karyawan, sebelum atau selama periode perubahan besar dalam organisasi, dan sebagai bagian dari onboarding karyawan baru.

Berikut adalah momen-momen kunci yang paling tepat untuk mengintegrasikan training growth mindset ke dalam kalender HR kamu:

  • Saat onboarding karyawan baru untuk memastikan fondasi pola pikir yang tepat dibangun sejak hari pertama.
  • Menjelang atau saat transformasi organisasi perubahan besar seperti digitalisasi, restrukturisasi, atau merger memerlukan karyawan yang fleksibel dan adaptif.
  • Setelah hasil employee engagement survey yang rendah, khususnya jika data menunjukkan rendahnya motivasi belajar atau tingginya rasa takut gagal.
  • Sebagai bagian dari program pengembangan pemimpin yaitu untuk memastikan para pemimpin memiliki pola pikir yang mendukung pertumbuhan tim mereka.
  • Saat hendak membangun budaya inovasi seperti sebelum meluncurkan program inovasi atau agile transformation, kamu perlu memastikan mindset seluruh tim sudah siap.

Baca Juga: Transformasi Perusahaan Melalui Corporate Training, Rahasia Sukses Meningkatkan Daya Saing

Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan Training Growth Mindset?

Mengukur keberhasilan training growth mindset memang lebih kompleks dibandingkan mengukur pelatihan teknis, kamu tidak bisa sekadar menghitung berapa banyak kode yang bisa ditulis atau berapa banyak laporan yang bisa diselesaikan.

Namun, bukan berarti dampaknya tidak bisa diukur. Dengan kerangka pengukuran yang tepat, kamu bisa mendemonstrasikan ROI dari program ini secara konkret kepada manajemen.

Kerangka yang paling banyak digunakan adalah Kirkpatrick Model yang mencakup empat level evaluasi: reaksi (reaction), pembelajaran (learning), perilaku (behavior), dan hasil (results).

Untuk training growth mindset, keempat level ini perlu diukur dalam rentang waktu yang berbeda dari segera setelah pelatihan hingga 6-12 bulan ke depan.

Cara Mengukur Keberhasilan Training Growth Mindset

  1. Pre dan Post Assessment Pola Pikir. Gunakan instrumen tervalidasi seperti Implicit Theories of Intelligence Scale yang dikembangkan dari riset Carol Dweck untuk mengukur pergeseran pola pikir peserta sebelum dan setelah pelatihan. Perubahan skor yang signifikan menjadi indikasi pertama keberhasilan program.
  2. Survei 360 Derajat Pasca Pelatihan. Minta atasan, rekan kerja, dan bawahan peserta untuk menilai perubahan perilaku yang mereka amati — apakah peserta sekarang lebih terbuka terhadap umpan balik, lebih berani mencoba hal baru, dan lebih mampu bangkit dari kegagalan.
  3. Pemantauan Indikator Kinerja Utama (KPI) Jangka Panjang. Lacak perubahan pada metrik-metrik bisnis yang relevan — seperti tingkat inovasi (jumlah ide baru yang diimplementasikan), produktivitas tim, skor employee engagement, dan tingkat turnover — dalam 6-12 bulan setelah program berjalan.

PRESENTA Sebagai Vendor Training Growth Mindset

PRESENTA Sebagai Vendor Training Growth Mindset

Setelah memahami seluk-beluk training growth mindset mulai dari definisi, manfaat, hingga cara mengukur keberhasilannya, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang bisa membantu kamu mewujudkannya?

PRESENTA hadir sebagai mitra strategis pengembangan SDM yang telah dipercaya oleh ratusan perusahaan di Indonesia. Sebagai vendor training growth mindset profesional, PRESENTA menawarkan program yang:

  • Berbasis riset ilmiah. Setiap modul dirancang berdasarkan teori-teori terkemuka dari Carol Dweck, neurosains modern, dan prinsip-prinsip andragogi.
  • Dipandu fasilitator berpengalaman. Tim trainer PRESENTA memiliki latar belakang psikologi, HR, dan pengembangan organisasi yang solid, dengan pengalaman mendampingi klien dari berbagai industri.
  • Disesuaikan dengan kebutuhan spesifik organisasi kamu. Bukan program one-size-fits-all, PRESENTA melakukan analisis kebutuhan mendalam sebelum merancang program yang benar-benar tepat sasaran.
  • Dilengkapi sistem pengukuran dan follow-up. PRESENTA tidak berhenti di hari terakhir pelatihan. Kamu mendapatkan dukungan penuh mulai dari pre-assessment, pelaksanaan, hingga evaluasi dampak jangka panjang.

Investasi dalam training growth mindset bersama PRESENTA adalah investasi dalam masa depan organisasi kamu membangun sumber daya manusia yang tangguh, adaptif, dan terus bertumbuh.

Training Consultant

Key Points Training Growth Mindset

  1. Growth mindset adalah fondasi pertumbuhan organisasi. Konsep yang dikembangkan oleh Carol Dweck ini membuktikan bahwa kemampuan manusia bisa terus berkembang dan training growth mindset adalah jembatan untuk mewujudkan potensi tersebut secara sistematis di dalam organisasi.
  2. Program yang efektif membutuhkan pendekatan multi-metode. Kombinasi experiential learning, coaching, peer learning, dan pengukuran berbasis data adalah kunci keberhasilan training growth mindset yang berdampak nyata dan berkelanjutan.
  3. Pengukuran adalah bagian integral dari program. Tanpa sistem evaluasi yang terstruktur menggunakan Kirkpatrick Model atau instrumen tervalidasi lainnya, sulit untuk mendemonstrasikan nilai dari training growth mindset kepada pemangku kepentingan.

Glosarium Training Growth Mindset

  1. Growth Mindset: Keyakinan bahwa kemampuan, kecerdasan, dan bakat seseorang dapat dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, dan bimbingan. Konsep ini diperkenalkan oleh Dr. Carol S. Dweck dari Stanford University.
  2. Fixed Mindset: Keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang sudah “terkunci” sejak lahir dan tidak dapat berubah secara signifikan, terlepas dari usaha yang dilakukan.
  3. Neuroplastisitas: Kemampuan otak manusia untuk membentuk, mengubah, dan memperkuat koneksi saraf baru sepanjang hayat sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran. Konsep ini menjadi landasan ilmiah yang mendukung kemungkinan perubahan pola pikir.

FAQ Training Growth Mindset

1. Berapa lama program training growth mindset yang ideal?
Menurut PRESENTA, Durasi ideal bergantung pada kedalaman perubahan yang ingin dicapai. Program singkat (1-2 hari) cocok untuk membangun kesadaran awal, sementara program yang berdampak transformatif biasanya membutuhkan 3-6 bulan dengan sesi pelatihan berkala, coaching, dan sesi reinforcement. Yang terpenting bukan panjangnya program, tapi konsistensi dan kualitas setiap sesinya.

2. Apakah training growth mindset cocok untuk semua industri?
Ya. Karena growth mindset berkaitan dengan pola pikir manusia secara universal, bukan keterampilan teknis tertentu. PRESENTA menilai program ini relevan di semua industri, mulai dari manufaktur, perbankan, teknologi, hingga pendidikan dan layanan kesehatan. Yang perlu disesuaikan adalah studi kasus dan contoh yang digunakan dalam program.

3. Bagaimana cara memastikan perubahan mindset bertahan lama setelah pelatihan selesai?
Kunci keberlanjutan adalah reinforcement yang konsisten. Menurut PRESENTA, ini bisa dilakukan melalui sesi coaching lanjutan, program accountability partner, integrasi prinsip growth mindset ke dalam proses performance review, dan yang paling penting adalah pemimpin yang menjadi role model dalam menerapkan pola pikir tumbuh setiap harinya.

Daftar Pustaka

  1. Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  2. Yeager, D. S., et al. (2019). A national experiment reveals where a growth mindset improves achievement. Nature, 573, 364–369.
  3. Clear, J. (2018). Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Avery Publishing.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *