Talent acquisition adalah pendekatan strategis jangka panjang dalam menarik, mengidentifikasi, dan memperoleh individu berbakat yang mampu mendukung tujuan bisnis secara berkelanjutan.
Talent acquisition bukan sekadar proses rekrutmen biasa. Kalau kamu sudah lama berkecimpung di dunia HR, pasti kamu sadar bahwa ada perbedaan besar antara sekadar mengisi lowongan kerja dengan benar-benar membangun pipeline talenta yang kuat dan berkelanjutan untuk organisasi.
Di sinilah HR framework berperan krusial. Framework yang tepat tidak hanya membantu kamu menemukan kandidat yang sesuai secara teknis, tapi juga memastikan bahwa setiap talenta yang masuk memiliki keselarasan nilai, potensi jangka panjang, dan kontribusi nyata bagi pertumbuhan perusahaan.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang bagaimana talent acquisition dapat dijalankan secara strategis menggunakan HR framework yang terstruktur, mulai dari fondasi konseptualnya, langkah-langkah implementasinya, hingga tips praktis yang bisa langsung kamu terapkan di organisasimu.
Apa Itu Talent Acquisition?
Talent acquisition adalah pendekatan strategis jangka panjang dalam menarik, mengidentifikasi, dan memperoleh individu berbakat yang mampu mendukung tujuan bisnis secara berkelanjutan.
Berbeda dengan rekrutmen konvensional yang bersifat reaktif, hanya bergerak ketika ada posisi kosong, talent acquisition bersifat proaktif dan berorientasi masa depan.
Menurut Dave Ulrich, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia HR modern, dalam bukunya HR from the Outside In (2012), fungsi HR yang efektif harus mampu menciptakan nilai bagi bisnis, bukan sekadar mengisi formulir dan memproses administrasi kepegawaian.
Ulrich menekankan bahwa talent acquisition adalah salah satu pilar utama dalam membangun organisasi yang kompetitif.
Perbedaan mendasar antara rekrutmen dan talent acquisition terletak pada orientasi waktunya. Rekrutmen menjawab pertanyaan “siapa yang kita butuhkan sekarang?” sementara talent acquisition menjawab pertanyaan yang jauh lebih strategis: “siapa yang akan kita butuhkan dalam satu hingga tiga tahun ke depan, dan bagaimana kita membangun jalur untuk mendapatkan mereka?” Ini bukan perbedaan kecil, ini adalah perbedaan antara HR yang reaktif dan HR yang benar-benar duduk di meja strategi bisnis.
Talent acquisition yang matang juga mencakup employer branding, talent mapping, succession planning, dan bahkan pengembangan hubungan dengan talenta potensial sebelum mereka benar-benar melamar.
Organisasi-organisasi global seperti Google, Unilever, dan Tokopedia sudah lama menggeser fokus mereka dari rekrutmen transaksional menuju pendekatan talent acquisition yang komprehensif dan berbasis data.
Bagaimana Posisi Talent Acquisition dalam HR Framework?
HR framework dalam konteks talent acquisition adalah struktur sistematis yang memandu setiap keputusan dan aktivitas pengadaan talenta dari hulu ke hilir.
Framework yang baik memastikan konsistensi, akuntabilitas, dan efektivitas di setiap tahap proses, mulai dari perencanaan tenaga kerja hingga onboarding dan retensi awal.
McKinsey & Company dalam risetnya bertajuk War for Talent yang dipublikasikan pertama kali oleh Ed Michaels, Helen Handfield-Jones, dan Beth Axelrod (2001) dan diperbarui dalam berbagai studi lanjutan, menegaskan bahwa perusahaan yang menang dalam persaingan talenta adalah mereka yang memiliki sistem dan framework yang kuat bukan hanya mengandalkan intuisi atau koneksi personal.
Setidaknya ada tiga elemen utama dalam sebuah HR framework yang efektif untuk talent acquisition: pertama, clarity of role (kejelasan peran dan ekspektasi), kedua process standardization (standarisasi proses seleksi dan evaluasi), dan ketiga data-driven decision making (pengambilan keputusan berbasis data).
Tanpa ketiga elemen ini, talent acquisition kamu akan berjalan seperti kapal tanpa kompas bergerak, tapi tidak tahu persis ke mana tujuannya.
Dalam praktiknya, HR framework untuk talent acquisition sering kali digambarkan sebagai sebuah siklus, bukan garis lurus. Kamu akan terus berputar antara perencanaan, eksekusi, evaluasi, dan penyesuaian.
Dan di situlah letak keindahannya, setiap siklus harusnya membuat proses talent acquisition kamu semakin tajam dan semakin akurat.
Baca Juga: Apa itu Training SDM? Pengertian, Jenis, Manfaat, Biaya, Waktu, dan Pelaksanaan
Apa Saja Komponen Talent Acquisition?
Sebagai praktisi HR, talent acquisition memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan. Komponen utama talent acquisition tersebut mencakup beberapa hal berikut:
1. Workforce Planning: Fondasi Strategis Talent Acquisition
Workforce planning adalah titik awal dari seluruh proses talent acquisition. Sebelum kamu membuka satu pun lowongan kerja, kamu perlu memahami kebutuhan tenaga kerja organisasi secara menyeluruh, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Di tahap ini, kamu perlu berkolaborasi erat dengan para pemimpin bisnis untuk memahami arah strategis perusahaan.
Pertanyaan seperti “produk atau layanan baru apa yang akan diluncurkan dalam 12 bulan ke depan?” atau “bagaimana teknologi akan mengubah cara kerja tim ini?” harus bisa dijawab sebelum kamu mulai mencari kandidat.
Peter Cappelli, profesor di Wharton School of the University of Pennsylvania, dalam bukunya Talent on Demand (2008), berargumen bahwa workforce planning yang baik adalah tentang menyeimbangkan supply dan demand talenta secara dinamis, bukan membuat rencana kaku yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan bisnis. Ia menekankan bahwa perusahaan perlu berpikir layaknya supply chain manager dalam mengelola talenta.
Secara praktis, workforce planning yang efektif mencakup analisis gap kompetensi, proyeksi turnover, identifikasi peran-peran kritis, dan pemetaan talenta internal yang sudah ada.
Data dari sistem HRIS (Human Resource Information System) yang kamu miliki adalah goldmine yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.
2. Employer Branding: Membangun Daya Tarik Organisasi
Employer branding adalah upaya sadar dan terencana untuk membangun citra organisasi sebagai tempat kerja yang menarik bagi talenta yang kamu targetkan.
Ini adalah komponen talent acquisition yang sering diremehkan, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas dan kuantitas kandidat yang kamu dapatkan.
Riset dari LinkedIn Talent Solutions menunjukkan bahwa perusahaan dengan employer brand yang kuat berhasil mengurangi biaya rekrutmen hingga 43% dan meningkatkan kualitas hire secara signifikan.
Ketika nama perusahaan kamu sudah dikenal baik di pasar talenta, kandidat datang sendiri sehingga kamu tidak perlu terus-menerus berburu.
Membangun employer brand yang kuat membutuhkan kolaborasi antara HR dan Marketing, serta komitmen dari level manajemen puncak.
Employee value proposition (EVP) yang autentik, mencerminkan apa yang benar-benar membuat organisasimu unik sebagai tempat bekerja, adalah inti dari employer branding yang efektif. Ingat, EVP yang palsu atau berlebihan justru akan memperburuk reputasimu di pasar talenta.
3. Sourcing Strategy: Menemukan Talenta di Tempat yang Tepat
Strategi sourcing yang efektif adalah tentang menjangkau kandidat berkualitas di berbagai channel yang tepat, bukan hanya mengunggah lowongan di job board dan menunggu lamaran masuk.
Di era digital ini, talent acquisition professional yang baik harus memiliki kemampuan layaknya seorang marketer.
Pendekatan multi-channel sourcing mencakup job posting di platform digital, active sourcing melalui LinkedIn dan platform profesional lainnya, referral program internal, talent community, dan bahkan kemitraan dengan universitas atau lembaga pelatihan. Setiap channel memiliki karakteristiknya sendiri dan cocok untuk tipe posisi yang berbeda.
Lou Adler, dalam bukunya Hire with Your Head (2007), menekankan pentingnya apa yang ia sebut sebagai “performance-based hiring” di mana proses sourcing dimulai dengan mendefinisikan secara sangat jelas apa yang harus dilakukan oleh seseorang di posisi tersebut, bukan hanya daftar kualifikasi dan persyaratan formal.
Pendekatan ini membantu kamu menemukan kandidat yang tepat, bukan hanya kandidat yang memenuhi syarat di atas kertas.
Baca Juga: Apa itu Training Problem Solving? Definisi, Manfaat, Tujuan, Metode, dan Implementasinya
4. Selection Process: Mengevaluasi Kandidat Secara Objektif
Proses seleksi adalah jantung dari talent acquisition. Di sinilah kamu harus memastikan bahwa setiap keputusan hire didasarkan pada data dan bukti yang valid, bukan hanya gut feeling atau kesan pertama yang bisa sangat menyesatkan.
Structured interview atau wawancara terstruktur dengan pertanyaan yang sudah dirancang berdasarkan kompetensi, terbukti secara ilmiah jauh lebih akurat dalam memprediksi kinerja dibandingkan wawancara tidak terstruktur.
Meta-analisis yang dilakukan oleh Schmidt & Hunter (1998) yang dipublikasikan di Psychological Bulletin menunjukkan bahwa structured interview memiliki validitas prediktif sekitar 0.51, jauh lebih tinggi dibandingkan unstructured interview yang hanya 0.38.
Di luar wawancara, proses seleksi yang komprehensif juga mencakup assessment psikometri, simulasi kerja, dan case study yang relevan dengan peran yang dilamar.
Yang penting, setiap alat seleksi yang kamu gunakan harus valid, reliabel, dan bebas dari bias, tidak diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
5. Candidate Experience: Menciptakan Kesan Pertama yang Berkesan
Candidate experience adalah keseluruhan perjalanan dan persepsi yang dialami oleh calon karyawan selama berinteraksi dengan proses talent acquisition organisasimu.
Hal ini dimulai dari saat mereka pertama kali mengenal perusahaanmu dan berakhir jauh setelah mereka diterima atau ditolak.
Mengapa ini penting dalam HR framework? Karena setiap kandidat adalah ambassador potensial atau critic bagi employer brand kamu.
Kandidat yang memiliki pengalaman buruk dalam proses rekrutmen tidak hanya akan menolak tawaran kerja, mereka juga berpotensi menyebarkan pengalaman negatif tersebut kepada jaringan profesional mereka.
Menurut laporan Talent Board Candidate Experience Research (2022), 40% kandidat yang memiliki pengalaman rekrutmen yang sangat positif akan melamar kembali di masa depan meskipun tidak diterima, dan 62% akan merekomendasikan perusahaan tersebut kepada orang lain.
Angka-angka ini membuktikan bahwa berinvestasi pada pengalaman calon karyawan merupakan investasi dalam talent pipeline jangka panjang.
Bagaimana Cara Membangun Talent Acquisition?
Kamu bisa menerapkan beberapa langkah berikut sebagai cara membangun talent acquisition, antara lain:

1. Lakukan Audit Proses yang Ada Saat Ini
Sebelum membangun framework baru, kamu perlu memahami kondisi saat ini dengan jujur. Petakan seluruh proses talent acquisition yang sudah berjalan, dari momen pertama lowongan dibuat hingga hari pertama karyawan baru masuk, dan identifikasi di mana bottleneck, inconsistency, atau waste terjadi.
Gunakan data seperti time-to-fill, cost-per-hire, quality of hire, dan offer acceptance rate sebagai baseline.
Data ini akan menjadi tolok ukur untuk mengukur keberhasilan framework yang akan kamu bangun. Tanpa baseline yang jelas, kamu tidak akan tahu apakah perubahan yang kamu buat benar-benar membuat perbedaan.
2. Definisikan Tujuan dan KPI yang Spesifik
Framework yang baik selalu berakar pada tujuan yang jelas. Definisikan apa yang ingin kamu capai dari talent acquisition, apakah menurunkan time-to-fill, meningkatkan diversity hire, meningkatkan kualitas kandidat, atau menekan biaya rekrutmen?
Setiap tujuan harus diterjemahkan ke dalam KPI yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).
Misalnya, bukan hanya “meningkatkan kualitas hire” tapi “meningkatkan 90-day performance rating new hire dari 3.2 menjadi 3.8 dalam periode 12 bulan ke depan.”
Baca Juga: 7 Contoh Program Pelatihan Karyawan yang Efektif untuk Melejitkan Performa Tim
3. Rancang Proses yang Terstandarisasi namun Fleksibel
Standarisasi bukan berarti kekakuan. Kamu perlu merancang proses yang cukup konsisten untuk memastikan fairness dan kualitas, namun cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan kebutuhan berbagai jenis posisi dan departemen yang berbeda.
Buat playbook rekrutmen yang mencakup template job description, panduan sourcing, scoring rubric untuk evaluasi kandidat, dan SOP untuk setiap tahap proses. Pastikan setiap stakeholder — dari hiring manager hingga anggota panel wawancara — memahami peran mereka dan mengikuti standar yang sama.
4. Integrasikan Teknologi yang Tepat
Di era modern, talent acquisition yang efektif tidak bisa lepas dari teknologi. Applicant Tracking System (ATS), platform video interview, assessment tool berbasis AI, dan analytics dashboard adalah beberapa teknologi yang bisa secara dramatis meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses talent acquisition kamu.
Namun penting untuk diingat — teknologi adalah enabler, bukan pengganti judgment manusia. Kamu tetap perlu human touch dalam setiap interaksi dengan kandidat, terutama di tahap akhir proses seleksi. Teknologi membantu kamu bekerja lebih efisien; nilai-nilai dan empati manusia yang membuat talenta mau bergabung dan bertahan.
5. Bangun Kolaborasi dengan Hiring Manager
Salah satu tantangan terbesar dalam talent acquisition adalah kesenjangan ekspektasi antara tim HR dan hiring manager. HR framework yang efektif harus secara eksplisit mendefinisikan bagaimana hubungan kolaboratif ini dikelola.
Lakukan intake meeting yang terstruktur sebelum setiap proses rekrutmen dimulai. Pastikan hiring manager memahami realistisitas pasar talenta saat ini, dan pastikan juga bahwa tim HR memahami kebutuhan bisnis yang sebenarnya di balik setiap permintaan hire.
Semakin baik alignment ini, semakin cepat dan akurat proses talent acquisition kamu akan berjalan.
Baca Juga: Strategi Pengembangan Kompetensi Karyawan melalui Training untuk Membangun Tim Unggul
Bagaimana Mengoptimalkan Talent Acquisition dengan Pendekatan Berbasis Data?
Proses perekrutan yang kamu lakukan akan berjalan semakin efektif jika kamu bisa menggunakan pendekatan berbasis data di dalam prosesnya.
1. Manfaatkan Predictive Analytics dalam Seleksi
Data bukan hanya untuk melaporkan apa yang sudah terjadi, data bisa digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi.
Predictive analytics dalam talent acquisition memungkinkan kamu mengidentifikasi karakteristik kandidat yang paling berkorelasi dengan performa dan retensi tinggi di organisasimu.
Mulailah dengan menganalisis data karyawan yang sudah ada: apa kesamaan antara high performer di setiap departemen?
Dari channel sourcing mana mereka berasal? Pengalaman seperti apa yang paling berkorelasi dengan kesuksesan jangka panjang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahan bakar untuk talent acquisition yang lebih akurat.
2. Gunakan Diversity & Inclusion sebagai Strategi, Bukan Sekadar Compliance
Penelitian dari McKinsey (2020) dalam laporan Diversity Wins menunjukkan bahwa perusahaan dengan diversitas gender di level eksekutif 25% lebih mungkin menghasilkan profitabilitas di atas rata-rata industri.
Diversitas adalah strategi bisnis yang terbukti menghasilkan inovasi dan kinerja yang lebih baik.
Pastikan HR framework talent acquisition kamu secara aktif merancang inklusivitas ke dalam setiap tahap proses, mulai dari job description yang menggunakan bahasa inklusif, panel interview yang beragam, hingga blind review CV untuk meminimalkan unconscious bias.
3. Ukur dan Iterasi Secara Berkala
Sebaik apapun framework yang kamu bangun, ia perlu dievaluasi dan diperbaiki secara reguler. Jadwalkan review quarterly untuk menganalisis KPI talent acquisition dan mengidentifikasi area perbaikan.
Feedback loop dari kandidat, hiring manager, dan new hire adalah sumber informasi yang sangat berharga. Net Promoter Score (NPS) untuk candidate experience adalah salah satu metrik sederhana namun powerful yang bisa kamu mulai implementasikan hari ini.
Baca Juga: 5 Checklist HR dalam Menyusun Kurikulum Training untuk Meningkatkan Kompetensi Karyawan
Apa Saja Tantangan Umum Talent Acquisition dan Cara Mengatasinya?
Talent acquisition di dunia nyata tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa tantangan talent acquisition yang hampir pasti akan kamu hadapi, yaitu:
1. Talent Scarcity
Tantangan pertama adalah talent scarcity. Kkondisi di mana talenta dengan keahlian spesifik yang dibutuhkan sangat langka di pasar.
Solusinya bukan hanya mencari lebih keras, tapi juga mempertimbangkan internal mobility, upskilling kandidat potensial, atau memperluas kriteria pencarian ke talenta yang belum konvensional.
2. Bias Proses Seleksi
Tantangan kedua adalah bias dalam proses seleksi. Daniel Kahneman, pemenang Nobel Ekonomi dan penulis Thinking, Fast and Slow (2011), telah secara ekstensif mendokumentasikan bagaimana “System 1 thinking”, pemikiran cepat dan intuitif, sering kali menghasilkan bias yang tidak disadari dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam seleksi karyawan. Solusinya adalah strukturisasi proses seleksi dan penggunaan scoring rubric yang objektif.
3. Ketidakselarasan Antara HR dan Tujuan Bisnis
Tantangan ketiga adalah misalignment antara HR dan bisnis. Ketika tim talent acquisition tidak memahami kebutuhan bisnis yang sebenarnya, atau ketika hiring manager tidak memahami realitas pasar talenta, proses rekrutmen menjadi lambat dan tidak produktif. Investasikan waktu dalam business partnership yang solid antara HR dan setiap departemen.
Bagaimana Peran Teknologi dalam Talent Acquisition?
Tidak ada pembicaraan tentang talent acquisition modern yang lengkap tanpa membahas teknologi. AI, machine learning, dan automation telah mengubah cara kerja talent acquisition secara fundamental dalam beberapa tahun terakhir.
AI dalam talent acquisition bisa membantu dalam hal resume screening, penjadwalan interview, bahkan analisis nada dan konten dalam proses wawancara berbasis video.
Namun, Joshua Bersin, analis HR terkemuka yang mendirikan Bersin & Associates, berulang kali mengingatkan bahwa teknologi HR harus diimplementasikan dengan sangat hati-hati, terutama yang menggunakan AI, untuk memastikan tidak ada bias algoritmik yang justru memperburuk diversity dan fairness dalam proses rekrutmen.
Yang lebih penting, setiap teknologi yang kamu pilih untuk mendukung talent acquisition harus terintegrasi ke dalam HR framework yang sudah kamu rancang, bukan malah memaksamu mengubah proses untuk menyesuaikan dengan keterbatasan teknologi.
Bagaimana Mengukur Keberhasilan Talent Acquisition?
Keberhasilan talent acquisition tidak bisa diukur hanya dari seberapa cepat kamu mengisi posisi kosong. Ada serangkaian metrik yang perlu kamu pantau secara komprehensif untuk mendapatkan gambaran yang utuh.
1. Time-to-Fill vs Time-to-Productivity
Time-to-Fill vs Time-to-Productivity adalah dua metrik yang berbeda namun sama pentingnya. Time-to-fill mengukur efisiensi prosesmu, sementara time-to-productivity mengukur seberapa cepat new hire bisa memberikan kontribusi nyata. Yang kedua sering lebih penting bagi bisnis.
2. Quality of Hire
Quality of Hire adalah metrik paling strategis dalam talent acquisition. Ini bisa diukur melalui kombinasi performance rating di 90 hari pertama, retention rate di tahun pertama, dan feedback dari hiring manager.
Meskipun lebih kompleks untuk diukur, quality of hire adalah bukti paling kuat dari efektivitas HR framework talent acquisition kamu.
3. Cost per Hire
PRESENTA sebagai Mitra Strategis Talent Acquisition Kamu

Membangun HR framework yang kuat untuk talent acquisition adalah pekerjaan besar, dan tidak ada yang mengharapkan kamu melakukannya sendirian. Di sinilah PRESENTA hadir sebagai mitra pengembangan talenta yang siap mendampingi perjalananmu.
PRESENTA memahami bahwa setiap organisasi memiliki keunikan dan tantangannya sendiri dalam talent acquisition.
Sebagai mitra pengembangan talenta yang berpengalaman, PRESENTA menawarkan beragam pelatihan untuk meningkatkan kapasitas karyawan di perusahaanmu, seperti pelatihan leadership, public speaking, data visualization, komunikasi, presentasi, dan sebagainya.
Bersama PRESENTA, materi pada program pelatihan dan tools yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan perusahaan.
Dari sini,
Karena pada akhirnya, talent acquisition yang efektif bukan tentang mengikuti best practice global secara membabi buta, tapi tentang menemukan pendekatan yang paling tepat untuk organisasimu, dengan mempertimbangkan budaya, sumber daya, dan tujuan bisnis yang sangat spesifik milikmu.
Sudah saatnya talent acquisition di organisasimu naik level dan PRESENTA siap menjadi mitra perjalanan itu.
Key Points Talent Acquisition
- Talent acquisition berbeda dari rekrutmen biasa. Ini merupakan pendekatan strategis jangka panjang yang mencakup workforce planning, employer branding, sourcing, seleksi, dan candidate experience dalam satu sistem terpadu yang berorientasi pada kebutuhan bisnis masa depan.
- HR framework yang efektif adalah fondasi talent acquisition yang sukses. Tanpa struktur, standarisasi, dan pendekatan berbasis data, proses talent acquisition akan cenderung inkonsisten, bias, dan tidak terukur efektivitasnya.
- Talent acquisition modern tidak bisa dipisahkan dari teknologi dan data. Namun teknologi hanya efektif ketika diintegrasikan ke dalam framework yang jelas, dengan human judgment tetap menjadi komponen utama dalam setiap keputusan hire.
Glosarium Talent Acquisition
- Talent Acquisition: Pendekatan strategis dan proaktif dalam menarik, mengidentifikasi, dan memperoleh talenta yang mampu mendukung tujuan bisnis jangka panjang, berbeda dari rekrutmen yang bersifat reaktif dan transaksional.
- Employee Value Proposition (EVP): Kumpulan nilai, manfaat, dan pengalaman yang ditawarkan oleh sebuah organisasi kepada karyawan dan calon karyawannya sebagai imbalan atas kontribusi, keahlian, dan dedikasi mereka.
- Quality of Hire: Metrik HR yang mengukur nilai atau kontribusi aktual yang diberikan oleh karyawan baru terhadap organisasi, biasanya diukur melalui kombinasi performa kerja, kecepatan mencapai produktivitas, dan tingkat retensi.
FAQ Talent Acquisition
1. Apa perbedaan utama antara talent acquisition dan rekrutmen dalam konteks HR framework?
Rekrutmen adalah proses mengisi posisi yang kosong secara reaktif, sementara talent acquisition adalah strategi proaktif jangka panjang yang mencakup workforce planning, employer branding, dan pembangunan talent pipeline bahkan sebelum ada posisi yang terbuka. Dalam HR framework, talent acquisition memiliki cakupan yang jauh lebih luas dan terintegrasi dengan strategi bisnis.
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun HR framework talent acquisition yang efektif?
PRESENTA menilai jika tidak ada jawaban satu ukuran untuk semua, namun sebagian besar organisasi membutuhkan 3–6 bulan untuk merancang dan mengimplementasikan framework dasar, dan 12–18 bulan untuk mulai melihat dampak yang terukur. Yang penting bukan kecepatan, melainkan konsistensi dalam eksekusi dan komitmen untuk terus mengiterasi berdasarkan data.
3. Bagaimana cara memastikan talent acquisition tetap inklusif dan bebas dari bias?
PRESENTA menyarankan untuk menggunakan structured interview dengan scoring rubric yang objektif, melakukan blind CV review, memastikan panel interview yang beragam, mengaudit data rekrutmen secara berkala untuk mengidentifikasi pola bias, dan memilih teknologi AI yang sudah diuji untuk fairness. Kesadaran tentang unconscious bias di seluruh stakeholder yang terlibat dalam proses juga sangat penting.
Daftar Pustaka
- Ulrich, D., Brockbank, W., Younger, J., & Ulrich, M. (2012). HR from the Outside In: Six Competencies for the Future of Human Resources. McGraw-Hill Education.
- Cappelli, P. (2008). Talent on Demand: Managing Talent in an Age of Uncertainty. Harvard Business Press.
- Schmidt, F. L., & Hunter, J. E. (1998). The validity and utility of selection methods in personnel psychology: Practical and theoretical implications of 85 years of research findings. Psychological Bulletin, 124(2), 262–274.




