Ringkasan Buku 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Efektif): Buku yang Akan Membuat Kita Jadi Pribadi yang Lebih Efektif

Ringkasan Buku 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Efektif): Buku yang Akan Membuat Kita Jadi Pribadi yang Lebih Efektif 2

Selamat pagi teman-teman semua. Ketemu lagi dengan saya, Muhammad Noer, dari Presenta. Kali ini saya ingin sharing tentang sebuah buku. Buku tersebut adalah buku yang sangat sangat bermanfaat buat saya, yang sudah saya baca sejak masa saya SMA dulu. Seperti yang Anda tahu, di channel ini, selain berbagi tips tentang teknik presentasi, teknik skill berkomunikasi, saya pun akan mengulas buku-buku yang dirasa penting, dirasa bermanfaat buat Anda.

Tentu saja buku-buku ini adalah buku-buku yang pernah saya baca sendiri, yang sedikit banyak mengubah hidup saya, mengubah cara pandang saya akan sesuatu dan membantu saya untuk memiliki pengetahuan tertentu, keterampilan tertentu dalam hidup.

Ringkasan buku 7 Habits of Highly Effective People untuk panduan buat Anda menjadi pribadi yang produktif dan efektif.

Hari ini saya akan ulas sebuah buku yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, dikarang oleh Stephen R. Covey. Buku ini adalah buku yang sangat terkenal. Kalau Anda seorang profesional di kantor, mungkin sangat familiar dengan buku ini, karena banyak juga trainingnya.

Buku ini tersedia dalam versi Inggris, ini saya punya versi Inggrisnya, edisi 25 tahun, dan ada juga edisi Indonesianya.

Kalau Anda ingin mencari edisi Indonesianya, diterbitkan oleh Dunamis sekarang. Sedangkan edisi Inggrisnya, Anda bisa mencari di Amazon atau di tempat lain.

Sebelum saya ceritakan buku ini, saya mau sharing dulu sedikit, kenapa kok saya pilih buku 7 Habits ini. Terus terang, buku 7 Habits ini adalah buku yang banyak mempengaruhi hidup saya dan buku ini saya baca pertama kali ketika saya masih SMA kelas tiga.

Saat itu tahun 1997, jadi cukup lama sekali. Saya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Saya belajar bahasa Inggris di sebuah lembaga, namanya PPIA, Perhimpunan Pelajar Indonesia Amerika. Di perpustakaannya, saya ketemu dengan buku 7 Habits ini.

Waktu itu masih anak SMA, saya baca bukunya. Terus terang, cukup sulit saya cerna karena buku itu berbahasa Inggris, dan juga dengan pengetahuan saya sebagai anak SMA, tidak mudah untuk menyerap isi buku itu.

Namun, saya coba pahami pelan-pelan, saya praktekkan pelan-pelan, terutama terkait bagian-bagaimana bagaimana cara mengelola waktu di buku 7 Habits ini. Nanti saya akan jelaskan lebih detail.

Sejak saat itu saya merasa buku ini sangat-sangat penting, terutama untuk membangun sikap dan karakter pribadi kita yang kuat.

Ringkasan Buku 7 Habits of Highly Effective People

ringkasan buku 7 habits

Seperti judulnya, 7 habits, 7 kebiasaan. Jadi di sini Stephen Covey bercerita apa kebiasaan seseorang yang bia membuat orang itu dikatakan sebagai orang yang efektif.

Tidak hanya efektif, bahkan highly effective, orang yang betul-betul sangat efektif.

Jadi ketika Stephen Covey menulis buku ini, dia mencoba melihat literatur selama 100 tahun terakhir. Jadi dari berbagai buku leadership, yang bisa dia pelajari, apa sih yang membuat orang-orang tertentu itu berbeda dibandingkan yang lain.

Apa ciri khas dari ajaran-ajaran leadership yang ada dalam literatur dalam 100 tahun terakhir, dan itu dirangkum oleh Stephen Covey dalam buku ini.

Jadi kalau kita lihat, pertama, kenapa kok disebut 7 habits, bukan 7 skills atau 7 yang lainnya? Jadi kalau Anda lihat di buku ini, di sini dijelaskan di halaman 56, Stephen Covey menjelaskan kenapa dia mengatakan 7 habits. Karena habits itu merangkum tiga urusan.

Seseorang yang memiliki kebiasaan tertentu, dia harus memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Dia tahu itu tentang apa dan kenapa. Kemudian dia juga memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan juga memiliki hasrat atau kemauan untuk melakukannya.

Jadi seseorang baru akan menjadi habits ketika dia melakukan sesuatu berulang-ulang, terus-menerus secara konsisten, sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Jika baru sekadar coba-coba, itu belum habits. Jika baru sekali dua kali dan belum konsisten, itupun belum habits. Itulah kenapa 7 habits.

Lalu kenapa efektif, bukan efisien atau yang lainnya? Kalau Anda baca dengan teliti dalam buku ini, Stephen Covey akan menjelaskan, kenapa itu efektif?

Efektif itu artinya tepat sasaran. Jadi seseorang yang efektif, dia melakukan sesuatu, melakukan tindakan tertentu dengan karakternya, dengan kebiasaannya, menghasilkan sesuatu yang tepat sasaran.

Sesuatu yang betul-betul penting, sesuatu yang berguna. Jadi itulah dari judulnya, kenapa ada kata habits atau kebiasaan, kenapa ada kata efektif.

Mengenal 7 Kebiasaan Manusia yang Efektif

Nah, sekarang kita akan melihat lebih jauh, sebenarnya apa 7 kebiasaan yang diajarkan atau dijelaskan oleh Stephen Covey dalam bukunya ini:

1. Menjadi Proaktif

Sekarang saya akan bahas habit yang pertama. Stephen Covey menyebutnya ‘be proactive’. Jadilah orang yang proaktif. Apa maksud proaktif itu?

Kalau kita dengar kata-kata pro dan aktif, berarti dia pro terhadap sesuatu yang aktif. Ada lagi kata reaktif, orang yang bereaksi atas hal tertentu, atas sesuatu.

Jadi Stephen Covey mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan orang yang proaktif. Proaktif adalah kebalikan atau lawan dari reaktif.

Orang yang reaktif, ketika dia menghadapi suatu yang stimulus, sebuah situasi, sebuah keadaan, maka dia merespon. Misalnya, saya diganggu orang, maka respon saya marah. Saya jalan ke satu tempat kena macet, maka respon saya menjadi kesal, jadi tidak nyaman.

Itulah orang-orang yang reaktif. Ketika terjadi sebuah keadaan, sebuah kejadian, perlakuan orang terhadap dirinya, dia langsung bereaksi tanpa memikirkan apa dampak dari reaksinya. Menurut Stephen Covey, itu bukanlah tindakan yang tepat.

Lantas, seperti apa tindakan yang tepat?

Yaitu tindakan yang proaktif. Apa itu proaktif?

Ketika kita mengalami sesuatu, mengalami suatu keadaan, mengalami suatu kejadian atau stimulus, baik itu yang menyenangkan atau tidak, maka kita secara sadar memikirkan, mempertimbangkan, kemudian memilih sikap atau tindakan yang ingin kita ambil. Itulah ciri orang yang proaktif.

Jadi seseorang yang ketika dia memberikan respon, itu bukan respon yang sekadar otomatis, tapi yang sudah dipertimbangkan, sesuai dengan self awareness-nya dia, sesuai dengan apa yang dia pahami, apa yang ingin dia lakukan.

Ketika Anda memilih untuk melakukan sesuatu dengan sebuah keyakinan, dengan sebuah pemahaman, maka Anda akan bisa memilih sikap yang terbaik.

Jadi, orang yang proaktif adalah orang yang dalam hidupnya selalu berfokus pada apa yang bisa dia kelola. Misalnya, saya naik taksi, jalanan macet.

Daripada saya kesal karena macet, toh saya tidak bisa mengaturnya supaya jadi lancar, saya mungkin akan menghabiskan waktu untuk beristirahat, untuk baca buku, atau mungkin mendengarkan musik yang saya suka.

Saya mencoba menikmati momen-momen ketika menghadapi kemacetan itu. Itulah oang yang proaktif, dia memilih tindakan terbaik yang bisa dilakukan dalam setiap keadaan.

Orang yang proaktif akan fokus pada apa yang disebut dengan circle of influence dan bukan pada circle of concern.

Orang yang proaktif akan fokus pada apa yang bisa dia kerjakan, bisa dia lakukan, bisa dia perbaiki, sehingga pelan-pelan apa yang bisa dia pengaruhi makin meluas dan mempengaruhi apa yang menjadi concern-nya.

Itulah langkah pertama jika Anda ingin menjadi orang yang efektif. Be proactive. Jadilah orang proaktif.

2. Mulai dari hasil akhir

Sekarang kita masuk ke habit yang kedua. Stephen Covey menyebutnya ‘begin with the end in mind’. Mulailah segala sesuatu dari hasil akhirnya. Apa maksud memulai sesuatu dari hasil akhirnya?

Kalau dalam buku ini, kalau nanti Anda membacanya, Stephen Covey bercerita tentang sebuah situasi, dimana seseorang itu meninggal.

Kemudian dia hendak dikuburkan dan dalam proses pemakaman, perwakilan keluarga, perwakilan teman, perwakilan rekan kerja, bercerita tentang orang tersebut. Apa komentar mereka tentang orang yang akan dikuburkan itu.

Jadi Stephen Coveymengajak kita untuk membayangkan, bayangkan ketika kita telah tiada, aoa yang dikenang orang lain terhadap diri kita.

Jadi begin with the end of mind ini menakankan bahwa setiap kali kita bertindak atau mengerjakan sesuatu, jangan pernah lupa untuk selalu berpikir apa hasil akhir yang ingin Anda capai, apa tujuan akhir yang ingin Anda capai.

Supaya kita bisa melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan akhir, tujuan inti yang ingin kita capai, maka kita harus jujur pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini, apa yang betul-betul kita inginkan, apa yang kita anggap penting dalam hidup kita.

Stephen Covey menyebut hal ini sebagai prinsip hidup, principal. Apa maksud principal ini?

Principal ini adalah gabungan dari segala hal yang menjadi perhatian kita. Dalam hidup kita tentu perhatian dengan urusan keluarga, urusan pekerjaan, urusan dengan tetangga, dengan masyarakat, dengan agama, pasangan, dan seterusnya.

Jadi gabungan semua itu menjadi sebuah prinsip kita. Maka peganglah prinsip yang tepat. Ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang, katakanlah dilemma, maka keputusan kita akan didasarkan pada prinsip yang kita pegang tadi.

Ketika Anda punya end in mind, apa sebenarnya tujuan paling akhir yang ingin Anda capai, maka akan membantu Anda untuk menentukan tindakan atau sikap yang perlu dilakukan.

Jadi tindakan Anda didasarkan pada prinsip hidup yang benar, prinsip hidup yang kokoh.

Itulah habit yang kedua, begin with the end in mind. Mulailah segala sesuatu berdasarkan hasil akhirnya.

3. Dahulukan yang utama

Sekarang kita masuk ke habit yang ketiga, Stephen Covey menyebutnya ‘put first things first’. Dahulukan yang utama. Apa maksudnya?

Terkadang kita dalam hidup ini sering melakukan banyak hal dan belum tentu apa yang kita lakukan itu adalah sesuatu yang benar-benar sebuah prioritas. Maka di buku ini diajarkan, kita harus selalu fokus pada apa yang menjadi prioritas.

Jadi habit yang ketika, put first things first ini, mengajarkan banyak tentang manajemen waktu, pengelolaan waktu, mengajarkan tentang bagaimana mengatur prioritas dalam hidup.

Ada yang menarik di sini, dimana Stephen Covey mencoba menggambarkan kuadran. Dia menyebutnya time management matrix.

Dalam matriks tersebut, dibagi berdasarkan apa-apa yang urgent dan tidak urgent, yang mendesak dan tidak mendesak, juga apa yang important dan not important, apa yang penting dan tidak penting.

Kuadran pertama adalah hal-hal yang bersifat penting sekaligus mendesak. Ini biasanya terkait dengan sesuatu yang terjadi, misalnya terjadi kebakaran. Maka mau tidak mau kita tinggalkan segala urusan kita dan fokus menghadapi apa yang sedang terjadi.

Urgent dan important ini juga terkait dengan hal-hal sudah masuk deadline-nya. Misalnya Anda punya tugas penting, presentasi yang ditugaskan oleh bos Anda.

Karena sekarang sudah deadline-nya, maka itu menjadi hal yang penting sekaligus mendesak untuk Anda. Itulah kuadran yang pertama, hal yang penting sekaligus mendesak.

Adapun kuadran yang kedua adalah kuadran dimana hal tersebut penting, namun tidak mendesak. Apa itu hal yang penting tapi tidak mendesak?

Ini adalah hal-hal yang terkait dengan hal-hal yang bersifat perencanaan, pencegahan, penyusunan strategi, dan seterusnya. Ini sebenarnya adalah hal-hal yang kalau dilakukan dengan baik dan benar, akan banyak memperbaiki urusan kita.

Kuadran ketiga adalah kuadran dimana hal tersebut tidak penting, namun terasa mendesak. Misalnya, Anda menerima telepon. Teleponnya berdering.

Telepon tersebut mungkin bukan telepon yang penting, tapi dia menjadi mendesak karena dia sekarang berbunyi. Kalau kita tidak menjawab atau meresponnya, mungkin nanti dia akan hilang.

Seringkali, banyak orang yang mengerjakan hal-hal yang terasa urgent, tapi sebenanya tidak penting. Kita menerina telepon yang tidak penting, teman mengajak ngobrol atau main-main, dan lain-lain. Inilah bagian yang urgent tapi tidak penting.

Kuadran yang terakhir adalah yang tidak mendesak sekaligus tidak penting. Kalau kita mau malas-malasan, mau santai, mau main game, yang sekadar menghabiskan waktu, itulah yang dianggap sebagai kuadran yang keempat.

Lantas seperti apa orang yang efektif itu mengatur waktunya?

Yang pasti adalah, satu, kuadran pertama harus kita bereskan dulu. Kerjakan dengan baik segala hal yang bersifat urgent dan important.

Bereskan segala hal yang mendesak, yang saat ini menjadi tanggung jawab Anda. Ketika itu beres, maka pelan-pelan geser aktivitas Anda untuk melakukan kuadran yang kedua, dimana kuadran kedua itu adalah hal-hal yang penting meskipun belum urgent sekarang.

Misalnya, Anda akan ujian sebulan lagi. Kenapa nggak dicicil dari sekarang belajarnya? Anda punya deadline tugas dua minggu lagi, sementara sekarang Anda punya waktu, kenapa nggak mulai dicicil untuk mengerjakan hal tersebut.

Nah, dengan Anda sibuk mengerjakan kuadran yang kedua, maka hampir dapat dipastikan, hal-hal yang sekadar membuang waktu, membuang energy, tidak akan kita lakukan lagi.

Jadi kuadran empat bisa kita hindarikan sama sekali. Adapun untuk hal-hal yang sifatnya tidak penting tapi urgent, sesekali Anda bisa lihat, kalaupun itu bisa Anda lakukan, lakukan. Tapi jangan terlalu banyak.

Jadi orang yang efektif akan sibuk memfokuskan dirinya dan waktunya di area kuadran yang kedua.

Hal-hal yang penting, hal-hal yang besar, yang kalau dikerjakan akan menciptakan perbedaan dalam hidup kita, menciptakan perbedaan untuk orang-orang lain di sekitar kita, meskipun belum terasa mendesak sekarang.

Dengan fokus di situ, Anda akan menjadi pribadi yang lebih efektif.

Itulah habit yang ketiga, dahulukan yang utama. Put first things first.

Tiga habit yang pertama ini, be proactive, begin with the end in mind, put first things first, kalau dalam bahasa Stephen Covey, sebuah private victory.

Jadi jika kita berhasil memiliki ketiga habits tersebut, maka sebagai individu yang tadinya kita adalah orang yang dependence, yang tergantung oleh keadaan, oleh orang lain, dan seterusnya, sekarang menjadi pribadi yang independence.

Kita naik satu level, dari dependence ke independence. Setelah independence ini, mulailah kita masuk ke habit-habit berikutnya, yang keempat, lima dan enam.

4. Berpikir menang-menang

Saya mulai dari habit yang keempat. Di habit yang keempat ini, Covey mengajarkan kita untuk ‘think win-win’, berpikir menang-menang. Apakah itu?

Kalau tadi tiga yang pertama terkait dengan urusan individu, maka tiga habit berikutnya terkait hidup kita dengan orang lain.

Dalam kita berinteraksi dengan orang lain, dengan keluarga, dengan teman, rekan kerja, maka selalu akan ada konflik yang terjadi. Ada beda kepentingan, beda urusan, beda perspektif dalam sebuah persoalan.

Terkadang, ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita selalu ingin di pihak yang menang. Sedangkan untuk orang lain, kita tidak peduli, apakah dia menang atau kalah.

Yang terjadi dalam banyak kasus adalah satu pihak sebagai orang yang menang, tapi pihak yang lain kalah. Win-lose.

Jadi kalau kita berhadapan dengan seseorang, kita punya sebuah kepentingan, dan kepentingan kita yang didahulukan, maka kita ada di pihak yang menang. Sementara, orang tersebut di pihak yang kalah.

Apa masalahnya kalau hal itu terjadi?

Tentu tidak nyaman bagi orang yang merasa kalah. Jika dia merasa kalah, maka pada titik tertentu, orang tersebut pasti ingin berada di pihak yang memang dan dia akan berusaha mendapatkan haknya untuk menang dari kita.

Maka Covey mengajarkan, hampir pada setiap situasi, jika kita sungguh-sungguh memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut, memiliki niat yang tulus untuk melakukan hal tersebut, maka kita akan bisa mencoba mencari titik win-win untuk segala situasi.

Saya ambil contoh sederhana, misalnya saya bekerja. Saya sebagai seorang karyawan, kemudian pimpinan saya meminta saya untuk melakukan suatu tugas. Saya harus lembur malam ini.

Tapi saya sudah punya janji dengan keluarga saya, bahawa saya akan mengajak mereka jalan-jalan, sepulang kerja.

Tentu saya ada di posisi yang sulit.

Jika saya turuti keinginan atasan saya, maka saya akan menciptakan hal yang tidak nyaman buat keluarga saya. Sebaliknya, kalau saya ikuti janji saya pada anak saya itu dan saya tinggalkan pekerjaan saya, maka win buat keluarga dan lose untuk pekerjaan.

Apa yang bisa kita lakukan?

Di sini saya melihat ke prinsip saya, bahwa sebagai seorang yang bekerja, saya ingin bekerja dengan baik. Tapi saya juga punya keluarga, saya punya komitmen dengan mereka. Maka mengapa tidak, saya mencoba mengaturnya.

Misalnya, saya bilang sama atasan saya, “Pak/Bu, boleh nggak kerjaan yang harus kita lakukan ini tidak saya kerjakan di kantor. Saya bawa ke rumah saja. Karena saya sudah janji dengan putri saja. Saya sudah janji dengan keluarga saya. Saya akan tetap komit bahwa besok sebelum jam sembilan, apa yang Bapak/Ibu minta, sudah akan selesai.”

Itu ada contoh sebuah win-win. Keluarga tetap win karena bisa tetap memenuhi janji saya. Atasan juga tetap merasa win karena apa yang sangat mereka butuhkan dari diri saya sebagai anggota timnya, tetap bisa saya lakukan dengan pengaturan tertentu.

Jadi usahakan untuk selalu berpikiran win-win dalam setiap situasi. Kita akan tetap bisa bekerja sama dengan baik dengan setiap orang dan memberikan hasil yang terbaik.

Itulah habit yang keempat.

5. Berusaha memahami orang lain terlebih dahulu

Selanjutnya, habit yang kelima. Di sini Covey mengajarkan ‘seek first to understand then to be understood’. Mulailah atau berusahalah untuk memahami atau mengerti orang lain terlebih dahulu sebelum kita dimengerti oleh mereka.

Dalam kita berhadapan dengan orang, pasti akan ada beda pendapat, beda pemahaman, beda visi, beda pemikiran, dan seterusnya. Di sini Covey mengajarkan, seorang yang efektif akan selalu berusaha untuk mencoba memahami orang lain terlebih dahulu.

Bagaimana kita bisa memahami?

Kita bisa memahami kalau kita mau menjadi pendengar yang baik. Maka, belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik dalam setiap keadaan.

Jadi kita berhadapan dengan situasi yang agak rumit, agak conflicting, coba pahami dulu, apa sih dasarnya, kenapa kok orang tersebut berperilaku seperti itu. Apa dasarnya dia mengerjakan apa yang dia lakukan, apa alasan di balik sikapnya, di balik tingkah lakunya.

Dengan berusaha memahami orang lain, maka nanti orang lain pun akan berusaha lebih bisa memahami kita.

Jika ini yang Anda lakukan, seek first to understand then to be understood, maka kita akan menjadi pribadi yang mampu berempati terhadap orang lain, memahami situasi mereka.

Akibatnya, orang lain pun akan bisa memahami kita, sehingga kita bisa berjalan beriringan dengan mereka.

Itulah habit yang kelima.

6. Sinergi

Selanjutnya, habit yang keenam, yang terkait dengan sinergi.

Jadi, Covey mengajarkan, ada yang disebut dengan ‘synergize’. Apa itu sinergi?

Sinergi adalah, sebagai seorang individu, sebagai seorang manusia, kita pasti membutuhkan orang lain.

Misalnya saya bisa mengerjakan tugas A. jika dikerjakan sendirian, bisa dikerjakan dalam waktu tiga hari.

Tapi jika dikerjakan berdua dengan orang lain, bisa dikerjakan dalam waktu satu setengah hari. Jika bertiga, bisa sehari. Itulah sinergi, kita menggabungkan kekuatan, menggabungkan kemampuan.

Contoh lain, misalnya saya ingin melakukan sesuatu.

Kalau saya sendiri, saya nggak mampu karena ada skill tertentu yang saya tidak punya. Jika saya berpartner dengan teman saya, rekan saya, atau orang lain.

Itu jadi dimungkinkan karena dia punya kemampuan yang tidak saya miliki dan orang itu pun tidak memiliki kemampuan yang mampu saya lakukan.

Maka sebagai orang yang efektif, ketika kita keluar, bertemu dengan orang lain, misalnya rekan kerja kita, keluarga kita, pasangan kita, termasuk orang-orang yang baru kita kenal, coba pikirkan, dalam situasi seperti apa kita bisa bersinergi dengan mereka.

Menggabungkan kekuatan, menyatukan kekuatan tersebut sehingga yang tadinya masing-masing dari kita tidak bisa melakukan yang terbaik, karena ada yang tidak kita miliki, sekarang dengan bersinergi kita bisa melakukan hal tersebut.

Itulah habit yang keenam. Synergize, bagaimana kita bersinergi dengan orang lain, menggabungkan hal-hal yang positif yang kita miliki untuk kebaikan bersama.

Jadi ketika kita sudah berhasil membereskan urusan individual, kita berubah dari pribadi yang dependence ke independence.

Setelah Anda melakukan tiga habit yang berikutnya, mulai dari berpikir menang-menang, mencoba memahami orang lain terlebih dahulu sebelum kita dipahami, dan bersinergi, maka kita akan menang secara publik.

Kita akan bergeser dari yang sudah independence menjadi interdependence, saling ketergantungan dengan orang lain.

Ketergantungan yang saling menguatkan. Kita tidak hanya mengandalkan kemampuan efektivitas kita sebagai individu, tapi kita juga menyatukan dan memanfaatkan kemampuan orang lain sebagai individu, sehingga dampaknya lebih besar lagi.

7. Asah ‘gergaji’ kita

Terakhir, habit yang ketujuh. Habit yang ketujuh ini merangkum atau menyatukan semuanya. Dalam bahasanya Covey dikatakan ‘sharpen ke saw’ atau asah gergaji. Apa maksudnya?

Sebagai seorang individu yang mencoba menjadi orang yang lebih efektif dalam hidup, dalam keseharian, kita tetap harus mengasah pribadi kita. Apa saja yang harus diasah?

Banyak. Ada aspek fisik, aspek mental, aspek spiritual. Ini semua yang harus diasah.

Saya tidak mungkin menjadi orang yang proaktif, menjadi orang yang bisa mengatur waktu dengan baik, kalau tubuh saya sakit-sakitan, kepala gampang pusing. Maka saya harus mengasah fisik dengan cara berolah raga, istirahat yang cukup. Itulah mengasah dari sisi fisik.

Saya tidak akan bisa bersinergi dengan orang lain jika saya tidak baik secara mental. Maka saya harus mengasah mental saya supaya tetap sehat, tetap baik, tetap segar.

Saya juga tidak boleh lupa, ada aspek spiritual.

Saya jalankan ajaran agama. Karena saya beragama Islam, maka saya shalat, saya puasa. Untuk apa? Untuk me-recharge diri saya. Jadi ketika berinteraksi dengan orang lain, berhadapan dengan berbagai situasi, kita tetap bisa melakukan yang terbaik.

Jadi habit yang ketujuh adalah habit yang mengasah gergaji kita, mengasah segala hal yang kita pakai. Pikiran kita, mental kita, emosi kita, fisik kita, agar seratus persen dalam kondisi yang siap setiap saat, siap setiap waktu.

Itulah rangkuman dari buku The 7 Habits of Highly Effective People.

Ini buku yang sangat baik sekali. Saya pribadi membaca buku ini kurang lebih tujuh kali, dari depan sampai belakang, baik yang versi bahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris.

Buuku ini, terus terang, mengubah banyak dalam diri saya, mengubah saya menjadi orang yang bisa memiliki visi dalam bertindak.

Buku ini membuat saya lebih bisa mengatasi konflik, lebih bisa berhadapan dengan situasi yang sulit, membuat saya lebih bisa mengatur waktu terutama menata prioritas dalam pekerjaan, dan menjadi orang yang lebih efektif, lebih baik, lebih produktif.

Jadi buat teman-teman sekalian, ini buku yang bagus. Saya sangat menyarankan, baca bukunya.

Anda boleh saya baca summary-nya, tapi lebih baik lagi kalau kita bisa mendalami isinya apa, menangkap saripatinya dan mencoba mengaitkannya dengan kehidupan kita masing-masing. Saya yakin Anda akan mendapatkan banyak manfaat dari buku tersebut.

Demikian tadi ringkasan buku The 7 Habits of Highly Effective People.

Saya senang sekali bisa berbagi kepada Anda semua. InsyaAllah dalam kesempatan yang lain kita akan ulas buku-buku yang lain, yang akan bisa memberikan masukan berharga, manfaat buat teman-teman semua.

Khusus untuk buku ini, lihat di bagian deskripsi, saya akan berikan link kalau Anda ingin men-download summary dari buku tersebut.

Saya sudah pernah membuat file presentasi terkait ringkasan buku ini. Silakan buat Anda yang berminat, bisa download dari deskripsi yang ada di bawah.

Saya Muhammad Noer dari Presenta. Sampai ketemu lagi di video-video berikutnya.



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top