Ringkasan singkat: Training apa yang cocok untuk manager bergantung pada scope tanggung jawab, competency gap, pengalaman memimpin, dan tantangan bisnis yang dihadapi.
Secara umum, manager membutuhkan pengembangan pada leadership, strategic thinking, decision making, coaching, people management, communication, dan stakeholder management.
Daftar Isi
FAQ Corporate Training: Training Apa yang Cocok untuk Manager?

1. Training apa yang cocok untuk manager?
Training yang cocok untuk manager adalah program yang membantu mereka memimpin tim, mengambil keputusan, mengembangkan orang, mengelola stakeholder, dan menerjemahkan strategi menjadi eksekusi.
Prioritas training tetap perlu disesuaikan dengan competency gap dan tantangan bisnis yang dihadapi.
Beberapa topik yang umumnya relevan antara lain:
- leadership;
- strategic thinking;
- decision making;
- problem solving;
- people management;
- coaching dan mentoring;
- stakeholder management;
- change management;
- strategic communication;
- business acumen;
- performance management.
Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kondisi kerja manager:
| Tantangan Manager | Training yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|
| Tim kurang mandiri | Coaching & Delegation |
| Keputusan terlalu reaktif | Decision Making |
| Sulit menerjemahkan strategi | Strategic Thinking |
| Banyak konflik kepentingan | Stakeholder Management |
| Performance tim tidak berkembang | People Management |
| Menghadapi perubahan besar | Change Leadership |
| Sulit memengaruhi lintas fungsi | Influencing & Communication |
Karena itu, training apa yang cocok untuk manager tidak cukup ditentukan dari senioritas atau jabatan. HR/L&D perlu memahami peran manager terhadap tim, bisnis, dan stakeholder.
Dalam pendekatan PRESENTA, pengembangan manager perlu menjembatani kebutuhan people leadership dengan kebutuhan bisnis.
Manager tidak hanya dituntut mampu mengelola anggota tim, tetapi juga menerjemahkan arah organisasi menjadi prioritas yang dapat dijalankan.
2. Kompetensi apa yang perlu dimiliki seorang manager?
Manager perlu memiliki kombinasi leadership, business, people, dan execution capability.
Kompetensi yang relevan antara lain strategic thinking, decision making, communication, coaching, stakeholder management, problem solving, performance management, dan kemampuan memimpin perubahan.
Kompetensi tersebut dapat dikelompokkan menjadi:
Leading Self
- self-awareness;
- adaptability;
- resilience;
- learning agility;
- accountability.
Leading People
- coaching;
- mentoring;
- feedback;
- delegation;
- motivation;
- conflict management.
Leading Business
- strategic thinking;
- business acumen;
- decision making;
- problem solving;
- resource prioritization.
Leading Across Functions
- stakeholder management;
- influencing;
- collaboration;
- strategic communication;
- change leadership.
McKinsey dalam pembahasan capability building untuk middle managers menyoroti strategic thinking, complex problem solving, effective communication, dan coaching sebagai capability penting bagi middle manager.
Prioritas kompetensinya tetap perlu mengikuti peran manager dan kebutuhan organisasi.
3. Apa perbedaan kebutuhan training manager dan supervisor?
Training supervisor lebih banyak berfokus pada pengelolaan pekerjaan dan anggota tim sehari-hari, sedangkan training manager biasanya mencakup scope yang lebih luas seperti strategi, stakeholder, pengambilan keputusan, dan pengembangan leader di bawahnya.
Perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut:
| Supervisor | Manager |
|---|---|
| Daily supervision | Strategic execution |
| Basic delegation | Resource prioritization |
| Memberikan feedback | Developing leaders |
| Mengelola anggota tim | Mengelola tim dan stakeholder |
| Operational problem solving | Complex decision making |
| Team communication | Strategic communication |
| Monitoring pekerjaan | Translating strategy into execution |
Keduanya tetap membutuhkan leadership, communication, dan people management.
Yang berbeda adalah kedalaman dan konteks penggunaan competency.
Misalnya, supervisor menggunakan communication skill untuk memberikan arahan kepada anggota tim. Manager mungkin menggunakannya untuk menyelaraskan beberapa fungsi dan memengaruhi stakeholder.
PRESENTA melihat perbedaan level bukan sekadar perbedaan jabatan, tetapi juga perbedaan scope keputusan dan dampak pekerjaan.
Karena itu, materi untuk manager sebaiknya tidak hanya menjadi versi lebih sulit dari training supervisor.
4. Apakah manager perlu mengikuti leadership training?
Ya. Manager perlu mengikuti leadership training karena perannya menuntut kemampuan mengarahkan tim, membangun alignment, memengaruhi stakeholder, mengembangkan talent, dan memimpin dalam situasi yang semakin kompleks.
Topik leadership yang dapat relevan antara lain:
- leadership mindset;
- situational leadership;
- strategic leadership;
- influencing;
- building trust;
- leading change;
- emotional intelligence;
- decision making;
- talent development.
Leadership training untuk manager sebaiknya tidak berhenti pada teori gaya kepemimpinan.
Manager perlu berlatih menghadapi situasi seperti:
- target bisnis berubah;
- tim mengalami resistance;
- terjadi konflik antarunit;
- performance leader di bawahnya menurun;
- sumber daya terbatas;
- stakeholder memiliki prioritas berbeda.
SHRM dalam pembahasan leadership development untuk manager menjelaskan bahwa manager membutuhkan kemampuan seperti communication, coaching, decision making, strategic thinking, dan membangun trust.
Karena itu, saat menentukan training apa yang cocok untuk manager, leadership perlu dikaitkan dengan tantangan aktual dalam pekerjaannya.
5. Skill apa yang dibutuhkan manager dalam mengelola tim?
Manager membutuhkan skill untuk menetapkan arah, mendelegasikan tanggung jawab, mengembangkan anggota, mengelola performance, menangani konflik, serta menjaga alignment antara kebutuhan tim dan target organisasi.
Beberapa skill penting antara lain:
Goal Alignment
Manager perlu memastikan anggota memahami hubungan antara pekerjaan mereka dan prioritas organisasi.
Delegation
Tanggung jawab perlu dibagikan sesuai kemampuan, authority, dan kebutuhan pengembangan anggota.
Coaching
Manager membantu anggota berpikir, berkembang, dan meningkatkan kemampuan.
Feedback
Feedback diperlukan untuk mempertahankan perilaku efektif maupun memperbaiki performance.
Performance Management
Manager perlu mampu menetapkan ekspektasi, memonitor progres, dan menangani performance gap.
Conflict Management
Konflik dalam tim maupun lintas fungsi perlu ditangani tanpa mengganggu tujuan bersama.
Talent Development
Manager juga berperan menyiapkan anggota untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
McKinsey menyebut middle manager sebagai penghubung antara strategi dan eksekusi sekaligus people leader yang berperan membantu direct report berkembang.
Bagi PRESENTA, kemampuan mengelola tim tidak hanya berarti memastikan pekerjaan selesai. Manager juga perlu membangun kapasitas tim agar ketergantungan terhadap dirinya secara bertahap berkurang.
6. Apakah manager perlu belajar coaching dan mentoring?
Ya. Manager perlu memahami coaching dan mentoring karena keduanya membantu mengembangkan kemampuan, judgement, dan kesiapan anggota tim menghadapi tanggung jawab berikutnya.
Namun, coaching dan mentoring memiliki pendekatan yang berbeda.
| Coaching | Mentoring |
|---|---|
| Membantu orang menemukan solusi | Membagikan pengalaman dan perspektif |
| Banyak menggunakan pertanyaan | Dapat lebih banyak memberikan arahan |
| Fokus pada awareness dan ownership | Fokus pada pembelajaran dari pengalaman |
| Cocok untuk performance dan development | Cocok untuk career dan role development |
Manager dapat menggunakan coaching ketika:
- anggota perlu menyelesaikan masalah;
- ingin meningkatkan ownership;
- anggota perlu merefleksikan pilihan;
- ingin mengembangkan kemampuan berpikir.
Mentoring dapat digunakan ketika:
- anggota memasuki peran baru;
- membutuhkan perspektif berdasarkan pengalaman;
- mempersiapkan career transition;
- membutuhkan gambaran lebih luas tentang organisasi.
Pelatihan Coaching & Mentoring PRESENTA dapat menjadi salah satu referensi pengembangan kemampuan tersebut.
Dalam pengembangan manager, PRESENTA mendorong penggunaan coaching dan mentoring secara kontekstual.
Manager perlu memahami kapan harus bertanya dan memberi ruang berpikir, serta kapan pengalaman dan arahan memang dibutuhkan.
7. Bagaimana training membantu manager mengambil keputusan?
Training membantu manager membangun proses berpikir yang lebih terstruktur dalam memahami masalah, mengevaluasi alternatif, mempertimbangkan risiko, dan menentukan keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Pengambilan keputusan dapat diperkuat melalui beberapa kemampuan:
- Problem framing
Memastikan manager memahami masalah yang sebenarnya. - Data interpretation
Menggunakan fakta dan informasi relevan sebagai dasar analisis. - Alternative generation
Mengembangkan beberapa pilihan, bukan hanya satu solusi. - Risk assessment
Mempertimbangkan konsekuensi setiap pilihan. - Stakeholder consideration
Memahami dampak keputusan kepada pihak lain. - Decision execution
Mengubah keputusan menjadi action plan. - Review
Mengevaluasi hasil dan melakukan penyesuaian.
Training juga dapat menggunakan:
- business case;
- simulation;
- scenario analysis;
- group decision exercise;
- real workplace problem.
Dengan demikian, manager tidak hanya mempelajari framework, tetapi juga melatih judgement.
PRESENTA menganjurkan penggunaan kasus yang dekat dengan situasi kerja peserta, karena kualitas decision making lebih mudah dikembangkan ketika peserta berlatih menghadapi trade-off yang realistis.
8. Bagaimana mengembangkan strategic thinking seorang manager?
Strategic thinking dikembangkan dengan melatih manager melihat hubungan antara tujuan jangka panjang, kondisi bisnis, prioritas, stakeholder, risiko, dan keputusan yang dibuat hari ini.
Kemampuan ini perlu dilatih melalui analisis dan penerapan, bukan hanya melalui teori strategi.
Manager dapat mengembangkan strategic thinking melalui:
Memahami Big Picture
Mengetahui bagaimana fungsi atau tim berkontribusi terhadap strategi perusahaan.
Melihat Pola
Tidak hanya bereaksi pada masalah satu per satu, tetapi mencari hubungan dan tren.
Menguji Asumsi
Mempertanyakan apakah cara kerja saat ini masih relevan.
Menilai Trade-off
Memahami bahwa pilihan strategi biasanya memiliki konsekuensi.
Scenario Thinking
Mempertimbangkan beberapa kemungkinan masa depan.
Menghubungkan Strategy dan Execution
Menerjemahkan strategi menjadi prioritas, resource allocation, dan action plan.
McKinsey menempatkan kemampuan merancang dan mengeksekusi strategic plan sebagai salah satu capability penting bagi middle manager. McKinsey & Company
Pengembangan strategic thinking juga perlu didukung dengan exposure terhadap masalah lintas fungsi dan perspektif bisnis yang lebih luas.
9. Apakah manager perlu training people management?
Ya. Manager membutuhkan people management training karena sebagian besar hasil kerjanya dicapai melalui orang lain. Skill ini membantu manager membangun performance, engagement, accountability, dan pengembangan anggota tim.
People management dapat mencakup:
- setting expectations;
- delegation;
- coaching;
- feedback;
- performance conversation;
- conflict management;
- motivation;
- talent development;
- succession readiness;
- team dynamics.
Manager yang kuat secara teknis belum tentu otomatis efektif mengelola orang.
Tantangan people management dapat muncul ketika:
- anggota tim berbeda karakter;
- performance gap tidak segera ditangani;
- high performer mulai kehilangan motivasi;
- konflik dibiarkan;
- manager terlalu micromanage;
- anggota terlalu bergantung pada manager.
Riset McKinsey juga menunjukkan coaching dan employee development merupakan area penting tempat manager dapat memberikan nilai bagi organisasi. McKinsey & Company
Karena itu, people management tetap relevan bahkan untuk manager yang sudah berpengalaman.
10. Bagaimana menentukan training yang tepat untuk manager?
Training yang tepat untuk manager ditentukan dengan menghubungkan business need, tuntutan peran, competency gap, dan perubahan perilaku yang ingin dicapai. Pemilihan program sebaiknya dimulai dari kebutuhan, bukan dari daftar topik training yang tersedia.
Gunakan alur:
Business Need → Role Requirement → Competency Gap → Learning Objective → Learning Solution
Contohnya:
| Kebutuhan | Competency | Program yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|---|
| Strategi sulit dieksekusi | Strategic Thinking | Strategic Leadership |
| Manager lambat mengambil keputusan | Decision Making | Problem Solving & Decision Making |
| Tim terlalu bergantung pada manager | Coaching & Delegation | People Management |
| Konflik lintas fungsi | Stakeholder Management | Influencing & Collaboration |
| Talent tidak berkembang | Coaching | Coaching for Leaders |
| Organisasi sedang berubah | Change Leadership | Leading Change |
Sebelum menetapkan training, HR/L&D perlu memastikan apakah gap memang berasal dari kemampuan.
Masalah managerial juga dapat disebabkan oleh:
- authority yang tidak jelas;
- struktur organisasi;
- workload;
- target yang bertentangan;
- sistem performance;
- keterbatasan resource.
Dalam pendekatan PRESENTA, diagnosis kebutuhan menjadi dasar sebelum menentukan program pengembangan.
Dengan begitu, learning objective, metode, dan materi dapat diarahkan pada perubahan yang memang dibutuhkan manager.
11. Apa perbedaan training manager baru dan manager berpengalaman?
Manager baru biasanya membutuhkan penguatan role transition dan foundational management capability, sedangkan manager berpengalaman lebih membutuhkan pengembangan pada strategic leadership, complex decision making, stakeholder management, dan pengembangan leader lain.
Perbedaannya dapat digambarkan sebagai berikut:
| Manager Baru | Manager Berpengalaman |
|---|---|
| Memahami peran manager | Strategic leadership |
| Transition dari supervisor | Leading through leaders |
| Basic stakeholder management | Complex stakeholder management |
| Delegation dan coaching | Talent multiplication |
| Decision making | Complex judgement |
| Managing team | Managing across functions |
| Performance management | Organizational capability |
Manager baru sering menghadapi tantangan mengubah perspektif dari mengelola satu tim menjadi melihat masalah dalam scope yang lebih luas.
Manager berpengalaman dapat menghadapi situasi seperti:
- mengelola beberapa leader;
- memimpin transformasi;
- mengambil keputusan lintas fungsi;
- mengalokasikan resource;
- membangun succession pipeline.
Jadi, training apa yang cocok untuk manager perlu mempertimbangkan pengalaman, bukan hanya title.
12. Bagaimana mengevaluasi hasil training manager?
Hasil training manager sebaiknya dievaluasi dari pemahaman, perubahan perilaku, penerapan skill, dan dampaknya terhadap area kerja yang menjadi tujuan program. Evaluasi tidak cukup berhenti pada kepuasan peserta.
Evaluasi dapat dilakukan dalam beberapa tahap:
1. Reaction
Apakah program relevan dengan tantangan manager?
2. Learning
Apakah peserta memahami framework, skill, atau cara berpikir yang dipelajari?
3. Application
Apakah manager mulai menerapkannya?
Contohnya:
- melakukan coaching;
- mendelegasikan lebih efektif;
- menggunakan framework decision making;
- menjalankan strategic discussion;
- memberikan feedback;
- melibatkan stakeholder dengan lebih baik.
4. Business atau Team Impact
Jika memungkinkan, lihat indikator yang terkait dengan tujuan awal, misalnya:
- kecepatan decision making;
- kualitas execution;
- perkembangan anggota tim;
- alignment lintas fungsi;
- penyelesaian masalah;
- pencapaian target.
Indikator harus dipilih berdasarkan learning objective.
Jika training bertujuan meningkatkan strategic thinking, maka ukuran keberhasilannya tentu berbeda dari program coaching atau people management.
PRESENTA menganjurkan perusahaan menetapkan indikator sejak awal program, sehingga evaluasi tidak dilakukan hanya berdasarkan kesan setelah kelas selesai.
Bagaimana PRESENTA Membantu?
PRESENTA membantu perusahaan merancang program pengembangan manager berdasarkan business need, competency gap, scope tanggung jawab, dan tantangan leadership yang dihadapi peserta.
Area pengembangan dapat mencakup:
- leadership;
- strategic thinking;
- decision making;
- communication;
- coaching dan mentoring;
- people management;
- stakeholder management;
- problem solving;
- change leadership.
PRESENTA dapat mendukung pengembangan melalui:
- In House Training;
- Public Training;
- Training Consulting;
- Learning Consulting;
- Assessment;
- Team Coaching;
- Private Coaching;
- HR & OD.
Perusahaan juga dapat mempertimbangkan Pelatihan Leadership PRESENTA atau Pelatihan Coaching & Mentoring PRESENTA sesuai dengan competency yang ingin dikembangkan.
Di PRESENTA, program manager sebaiknya tidak berhenti pada penambahan pengetahuan.
Learning experience perlu membantu peserta berlatih mengambil keputusan, mengembangkan orang, melihat masalah secara strategis, dan menerapkan capability tersebut kembali dalam pekerjaannya.
Langkah Selanjutnya
Setelah menentukan training apa yang cocok untuk manager, tahap berikutnya adalah memetakan competency gap, business challenge, dan leadership priority yang paling penting untuk dikembangkan.
Jika perusahaanmu sedang menyusun program pengembangan manager, PRESENTA dapat membantu melalui Training Consulting, Assessment, In House Training, Coaching, serta solusi learning & development yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Hubungi Training Consultant PRESENTA dengan klik gambar di bawah ini.





