Apa Itu In-House Training dan Kapan Perusahaan Membutuhkannya?

Apa Itu In-House Training dan Kapan Perusahaan Membutuhkannya

Ringkasan singkat: In-house training adalah program training yang diselenggarakan khusus untuk karyawan dari satu perusahaan atau organisasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan mereka.

Format ini cocok ketika perusahaan memiliki sejumlah karyawan dengan competency gap atau kebutuhan yang serupa dan ingin materi, kasus, aktivitas, serta jadwal dibuat lebih relevan dengan konteks pekerjaan.


FAQ Corporate Training: Apa Itu In-House Training dan Kapan Perusahaan Membutuhkannya?

In-house training untuk mengembangkan kompetensi karyawan sesuai kebutuhan dan konteks perusahaan

1. Apa itu in-house training?

In-house training adalah program training yang diselenggarakan khusus untuk peserta dari satu perusahaan atau organisasi dengan materi dan desain pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Pesertanya dapat berasal dari:

  • Satu Divisi;
  • Beberapa Divisi;
  • Satu Career Level;
  • Beberapa Career Level;
  • Project Team;
  • Kelompok Karyawan dengan Competency Need yang Sama.

Berbeda dengan public training yang mempertemukan peserta dari berbagai perusahaan, in-house training memberikan ruang lebih besar untuk menggunakan konteks organisasi sendiri.

Penyesuaian dapat dilakukan pada:

  • Learning Objective;
  • Case Study;
  • Role Play;
  • Simulation;
  • Participant Profile;
  • Industry Context;
  • Workplace Application.

ATD menjelaskan bahwa training untuk kelompok perusahaan dapat dilakukan secara khusus dan dikustomisasi sesuai kebutuhan organisasi.

Dalam pendekatan PRESENTA, in-house training sebaiknya tidak hanya memindahkan kelas umum ke dalam perusahaan.

Program perlu dibuat cukup dekat dengan situasi kerja agar karyawan dapat melihat hubungan antara materi dengan tantangan yang mereka hadapi.


2. Apa tujuan in-house training bagi perusahaan?

Tujuan in-house training adalah membantu perusahaan mengembangkan capability tertentu pada kelompok karyawan secara lebih terarah dan relevan dengan kebutuhan organisasi.

Tujuannya dapat berbeda pada setiap perusahaan.

Contohnya:

  • Meningkatkan Competency;
  • Menutup Performance Gap;
  • Menyiapkan Supervisor atau Manager Baru;
  • Menyamakan Standard Kerja;
  • Mengembangkan Leadership;
  • Meningkatkan Communication;
  • Mendukung Transformation;
  • Mempersiapkan Capability Baru.

Misalnya, perusahaan ingin seluruh supervisor menggunakan pendekatan yang lebih konsisten ketika memberikan feedback.

Program dapat dirancang bukan hanya untuk menjelaskan konsep feedback, tetapi juga melatih supervisor menggunakan framework dan situasi yang dekat dengan pekerjaan mereka.

Dengan demikian, tujuan program bukan sekadar membuat karyawan โ€œsudah mengikuti trainingโ€.

Tujuannya adalah membantu capability yang dibutuhkan perusahaan benar-benar berkembang.


3. Apa manfaat in-house training?

Manfaat in-house training adalah perusahaan dapat mengembangkan sejumlah karyawan dengan kebutuhan serupa melalui program yang lebih relevan, konsisten, dan kontekstual.

Beberapa manfaatnya antara lain:

Customization: Materi dan aktivitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Common Framework: Karyawan dapat menggunakan bahasa, framework, atau pendekatan yang sama setelah training.

Relevant Case: Contoh dan simulasi dapat menggunakan situasi yang dekat dengan pekerjaan.

Flexible Schedule: Jadwal relatif lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan trainer.

Group Development: Perusahaan dapat mengembangkan capability beberapa karyawan sekaligus.

Workplace Application: Assignment dapat dirancang agar skill langsung digunakan dalam pekerjaan.

Contohnya, perusahaan dapat memberikan communication training kepada beberapa fungsi sekaligus tetapi menggunakan situasi internal sebagai bahan diskusi.

Manfaat terbesar muncul ketika desain program memang berangkat dari kebutuhan yang nyata, bukan hanya karena perusahaan ingin memenuhi kalender training.


4. Apa kelebihan dan kekurangan in-house training?

In-house training memiliki kelebihan pada customization, relevansi, dan pengembangan kelompok, tetapi juga membutuhkan persiapan kebutuhan dan jumlah peserta yang cukup agar program efektif.

Perbandingannya:

AspekKelebihanHal yang Perlu Dipertimbangkan
MateriDapat dikustomisasiMembutuhkan needs analysis
PesertaMengembangkan kelompokKomposisi perlu tepat
CaseDapat menggunakan konteks internalPerlu informasi yang cukup
JadwalLebih fleksibelPerlu koordinasi trainer dan perusahaan
InteractionBisa membahas masalah bersamaHierarki peserta dapat memengaruhi keterbukaan
BiayaDapat efisien untuk kelompokKurang efisien jika pesertanya terlalu sedikit

Salah satu tantangan yang sering muncul adalah perusahaan mengumpulkan banyak orang dalam satu kelas hanya untuk mengejar efisiensi.

Padahal, jika learning need peserta terlalu berbeda, program dapat menjadi terlalu umum.

Kelebihan in-house training baru benar-benar terasa ketika peserta, learning objective, dan konteks program memiliki keterkaitan yang jelas.


5. Kapan perusahaan membutuhkan in-house training?

Perusahaan membutuhkan in-house training ketika terdapat kelompok karyawan dengan learning need yang relatif sama dan program perlu disesuaikan dengan konteks organisasi.

Format ini dapat dipertimbangkan ketika:

  • Competency Gap yang Sama Muncul pada Beberapa Karyawan;
  • Perusahaan Membutuhkan Customization;
  • Program Berkaitan dengan Business Challenge;
  • Case Internal Perlu Digunakan;
  • Organisasi Ingin Membangun Common Framework;
  • Banyak Karyawan Membutuhkan Topik yang Sama;
  • Ada Career Transition pada Kelompok Tertentu;
  • Program Mendukung Perubahan Organisasi.

Namun, tidak semua performance issue perlu diselesaikan melalui training.

SHRM dalam panduan Training Needs Assessment menekankan pentingnya mengidentifikasi capability gap dan memastikan apakah training memang menjadi intervensi yang tepat sebelum program dibuat.

Contohnya, penurunan performance dapat terjadi karena proses yang tidak jelas, resource tidak memadai, atau role ambiguity.

Dalam kondisi seperti itu, training saja belum tentu menyelesaikan masalah.

PRESENTA menganjurkan perusahaan memastikan akar kebutuhan terlebih dahulu sebelum memilih program.


6. Berapa jumlah peserta yang ideal untuk in-house training?

Tidak ada satu jumlah peserta yang ideal untuk semua in-house training karena jumlah peserta perlu disesuaikan dengan metode, kebutuhan praktik, tujuan pembelajaran, dan dinamika kelas.

Sebagai benchmark, ATD State of the Industry 2025 melaporkan median kelas instructor-led classroom sebanyak 20 learners, sementara jumlah yang paling sering muncul adalah 15 learners.

Data tersebut dapat menjadi referensi, bukan angka wajib.

Program yang banyak menggunakan:

  • Role Play;
  • Simulation;
  • Presentation Practice;
  • Coaching Practice;
  • Individual Feedback;

biasanya membutuhkan kelompok yang lebih terkendali agar setiap peserta mendapat kesempatan praktik.

Sebaliknya, program yang lebih banyak menggunakan:

  • Lecture;
  • Knowledge Sharing;
  • Seminar;
  • General Awareness;

dapat mengakomodasi jumlah peserta yang lebih besar.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:

โ€œBerapa orang maksimal?โ€

Tetapi:

โ€œBerapa banyak peserta yang masih memungkinkan learning objective tercapai dengan metode yang digunakan?โ€


7. Apakah materi in-house training bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan?

Ya. Materi in-house training dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan selama customization tersebut tetap mendukung learning objective program.

Penyesuaian dapat dilakukan pada:

  • Learning Objective;
  • Case Study;
  • Role Play;
  • Simulation;
  • Industry Context;
  • Participant Level;
  • Terminology;
  • Level of Difficulty;
  • Workplace Assignment;
  • Evaluation.

Namun, customization tidak selalu berarti seluruh materi harus dibuat ulang dari nol.

Framework yang sudah relevan dapat tetap digunakan.

Yang disesuaikan adalah cara framework tersebut diterapkan.

Contohnya, communication framework dapat digunakan untuk beberapa fungsi.

Namun application-nya dapat berbeda:

  • Sales menggunakan Customer Conversation;
  • Supervisor menggunakan Feedback Conversation;
  • HR menggunakan Stakeholder Discussion;
  • Finance menggunakan Data Communication.

Bagi PRESENTA, customization sebaiknya membuat pembelajaran lebih relevan, bukan sekadar mengganti nama perusahaan pada slide.


8. Bagaimana menentukan topik untuk in-house training?

Topik in-house training ditentukan dengan melihat business need, performance gap, competency requirement, serta capability yang masih perlu dikembangkan pada kelompok karyawan.

Gunakan alur:

Business Need โ†’ Performance Gap โ†’ Required Competency โ†’ Current Capability โ†’ Learning Need โ†’ Training Topic

Contohnya:

KondisiCapability yang DibutuhkanTopik yang Dapat Dipertimbangkan
Supervisor sulit mendelegasikanDelegationSupervisory Skills
Tim sulit berkoordinasiCommunicationCommunication Training
Presentasi kurang meyakinkanPresentationPresentation Skills
Manager kurang mengembangkan timCoachingCoaching & Mentoring
Masalah sering berulangProblem SolvingProblem Solving Training

Hindari menentukan topik hanya berdasarkan:

โ€œTraining apa yang sedang populer?โ€

Atau:

โ€œTopik apa yang belum pernah diberikan?โ€

Topik yang tepat adalah topik yang dapat membantu menutup capability gap yang memang relevan dengan pekerjaan.


9. Bagaimana menentukan peserta in-house training?

Peserta in-house training sebaiknya ditentukan berdasarkan learning need, competency gap, role, dan relevansi pekerjaan terhadap tujuan program.

Peserta tidak harus berasal dari jabatan atau divisi yang sama.

Mereka dapat digabung jika:

  • Memiliki Learning Need Serupa;
  • Menghadapi Tantangan yang Sama;
  • Membutuhkan Competency yang Sama;
  • Memiliki Baseline yang Tidak Terlalu Jauh;
  • Dapat Menggunakan Learning Objective yang Sama.

Contohnya, Communication Training dapat diikuti oleh HR, Finance, Sales, dan Operations jika seluruh peserta memiliki kebutuhan yang sama dalam meningkatkan koordinasi.

Sebaliknya, jika sebagian peserta membutuhkan basic communication sementara kelompok lain membutuhkan executive influencing, menggabungkannya dapat membuat program terlalu lebar.

Karena itu, komposisi peserta lebih baik ditentukan berdasarkan kesamaan kebutuhan pembelajaran, bukan sekadar siapa yang tersedia untuk mengikuti kelas.


10. Berapa lama durasi in-house training yang ideal?

Durasi in-house training tidak memiliki satu standar yang berlaku untuk semua program karena perlu mengikuti learning objective, jumlah materi, kebutuhan praktik, dan tingkat kedalaman capability yang ingin dibangun.

Contoh penggunaannya:

KebutuhanFormat yang Dapat Dipertimbangkan
Satu Topik SpesifikBeberapa Jamโ€“1 Hari
Fundamental Skill1โ€“2 Hari
Beberapa CompetencyBeberapa Modul
Behavioral DevelopmentLearning Journey
Leadership DevelopmentTraining + Application + Follow-Up

Program satu hari dapat cukup jika objective-nya spesifik.

Namun, jika perusahaan ingin mengembangkan beberapa capability sekaligus seperti communication, delegation, feedback, coaching, dan performance management, memasukkan semuanya ke satu hari dapat membuat pembelajaran terlalu padat.

Durasi perlu mengikuti scope perubahan capability, bukan keinginan untuk memasukkan sebanyak mungkin materi ke satu kelas.


11. Bagaimana proses mengadakan in-house training?

Proses mengadakan in-house training dimulai dari memahami kebutuhan, menentukan learning objective dan peserta, merancang program, menjalankan training, lalu mengevaluasi penerapannya.

Tahap 1 โ€” Identifikasi Kebutuhan

Tentukan business issue, performance gap, atau competency yang perlu dikembangkan.

Tahap 2 โ€” Tentukan Peserta

Identifikasi kelompok karyawan yang benar-benar membutuhkan program.

Tahap 3 โ€” Tetapkan Learning Objective

Tentukan knowledge, skill, atau behavior yang diharapkan setelah program.

Tahap 4 โ€” Desain Program

Tentukan:

  • Materi;
  • Metode;
  • Case;
  • Simulation;
  • Durasi;
  • Delivery Mode.

Tahap 5 โ€” Persiapan Training

Siapkan jadwal, venue atau platform, participant communication, serta kebutuhan teknis.

Tahap 6 โ€” Pelaksanaan

Training dapat menggunakan kombinasi explanation, discussion, practice, simulation, dan feedback.

Tahap 7 โ€” Application dan Evaluation

Lihat apakah karyawan mulai menggunakan capability yang dipelajari dalam pekerjaan.

Dalam pendekatan PRESENTA, proses tidak sebaiknya berhenti pada hari training.

Workplace application dan follow-up membantu organisasi melihat apakah pembelajaran benar-benar berpindah ke pekerjaan.


12. Apa yang perlu dipersiapkan perusahaan sebelum mengadakan in-house training?

Perusahaan perlu mempersiapkan tujuan program, profil peserta, kebutuhan pengembangan, jadwal, metode delivery, serta informasi yang dibutuhkan trainer untuk memahami konteks pekerjaan.

Beberapa hal yang perlu disiapkan:

Learning Objective: Apa yang harus berubah setelah program?

Participant Profile: Siapa yang akan mengikuti program?

Business Context: Mengapa program dibutuhkan?

Current Challenges: Situasi apa yang sedang dihadapi karyawan?

Schedule: Kapan program dapat dijalankan tanpa mengganggu pekerjaan utama?

Venue atau Platform: Apakah training dilakukan tatap muka atau online?

Internal Case: Apakah ada kasus yang dapat digunakan secara aman dalam program?

Manager Support: Apa yang akan dilakukan atasan setelah training?

Semakin jelas informasi awal yang diberikan, semakin mudah trainer memahami konteks program.

Perusahaan juga perlu memastikan karyawan mengetahui mengapa mereka mengikuti training, bukan hanya menerima undangan kalender.


13. Bagaimana memilih vendor untuk in-house training?

Vendor in-house training sebaiknya dipilih berdasarkan kemampuan memahami kebutuhan, relevansi expertise, kualitas desain, metode pembelajaran, fasilitator, dan kemampuan melakukan customization.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

  • Pengalaman pada Topik yang Dibutuhkan;
  • Profil Trainer;
  • Metode Needs Analysis;
  • Pendekatan Customization;
  • Training Method;
  • Sample Material;
  • Client Experience;
  • Evaluation Approach;
  • Support sebelum dan sesudah Program.

Jangan hanya membandingkan:

  • harga;
  • jumlah slide;
  • durasi;
  • popularitas trainer.

Vendor yang baik seharusnya mampu menjelaskan hubungan antara:

Need โ†’ Learning Objective โ†’ Method โ†’ Application โ†’ Evaluation

Perusahaan juga dapat meminta vendor menjelaskan contoh bagaimana materi akan disesuaikan dengan participant profile.

PRESENTA melihat vendor training sebagai learning partner, bukan sekadar penyedia trainer.

Vendor perlu mampu memahami kebutuhan sebelum menentukan solusi yang diberikan.


14. Berapa biaya in-house training?

Biaya in-house training bergantung pada scope program, durasi, jumlah peserta, tingkat customization, trainer, lokasi, metode delivery, serta kebutuhan tambahan lainnya.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi biaya:

  • Durasi Training;
  • Jumlah Hari;
  • Jumlah Peserta;
  • Level Trainer;
  • Tingkat Customization;
  • Development Material;
  • Assessment;
  • Venue;
  • Travel dan Accommodation;
  • Equipment;
  • Follow-Up atau Coaching.

Karena itu, biaya dua program dengan judul yang sama belum tentu identik.

Misalnya, Communication Training satu hari dengan framework standar akan memiliki scope berbeda dari program Communication tiga modul yang menggunakan assessment, customized case, simulation, dan follow-up.

Perusahaan sebaiknya membandingkan proposal berdasarkan:

Scope โ†’ Deliverables โ†’ Customization โ†’ Learning Method โ†’ Support โ†’ Total Investment

Bukan hanya nominal akhir.

Untuk mendapatkan estimasi yang lebih relevan, perusahaan dapat terlebih dahulu menjelaskan kebutuhan, jumlah peserta, target program, dan format yang diinginkan kepada Training Consultant.


Bagaimana PRESENTA Membantu?

PRESENTA membantu perusahaan merancang In House Training berdasarkan business need, competency gap, participant profile, learning objective, dan konteks pekerjaan.

Program dapat disesuaikan melalui:

  • Training Needs Analysis;
  • Participant Mapping;
  • Learning Objective;
  • Case Study;
  • Simulation;
  • Role Play;
  • Workplace Application;
  • Learning Evaluation.

PRESENTA dapat mendukung kebutuhan tersebut melalui:

Dalam pendekatan PRESENTA, In House Training perlu dimulai dari kebutuhan yang jelas.

Customization kemudian digunakan untuk membuat learning experience lebih dekat dengan tantangan pekerjaan, bukan sekadar membuat program terlihat berbeda dari kelas umum.


Langkah Selanjutnya

Setelah memahami in-house training, tahap berikutnya adalah menentukan business need, competency gap, jumlah peserta, learning objective, serta tingkat customization yang dibutuhkan perusahaan.

Jika perusahaanmu sedang merencanakan program In House Training, PRESENTA dapat membantu melalui Training Consulting, Assessment, In House Training, Learning Consulting, HR & OD, serta Learning Solution yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Hubungi Training Consultant PRESENTA dengan klik gambar di bawah ini.

Training Consultant PRESENTA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *