Apa Saja Training yang Dibutuhkan untuk Sales?

Apa Saja Training untuk Sales

Ringkasan singkat: Training yang dibutuhkan untuk sales biasanya mencakup selling skills, communication, negotiation, presentation, customer understanding, objection handling, dan account management.

Prioritas program perlu disesuaikan dengan sales process, competency gap, pengalaman sales, dan target bisnis perusahaan.


FAQ Corporate Training: Apa Saja Training yang Dibutuhkan untuk Sales?

Training yang dibutuhkan untuk sales dalam mengembangkan selling skills, communication, negotiation, dan kemampuan menghadapi customer

1. Training apa yang dibutuhkan oleh tim sales?

Training yang dibutuhkan oleh tim sales adalah program yang membantu mereka memahami customer, membangun komunikasi, menggali kebutuhan, menawarkan solusi, menangani objection, bernegosiasi, dan menutup peluang penjualan secara lebih efektif.

Beberapa topik yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • selling skills;
  • consultative selling;
  • communication;
  • negotiation;
  • presentation;
  • objection handling;
  • customer relationship;
  • account management;
  • prospecting;
  • problem solving;
  • product knowledge.

Pemilihannya perlu mengikuti tantangan yang benar-benar dihadapi sales.

Tantangan SalesTraining yang Dapat Dipertimbangkan
Sulit menggali kebutuhan customerConsultative Selling
Presentasi kurang meyakinkanPresentation Skill
Banyak keberatan dari customerObjection Handling
Sulit mempertahankan hargaNegotiation
Follow-up kurang efektifSales Communication
Sulit mengembangkan existing accountAccount Management
Sales baru belum memahami prosesSelling Fundamentals

Karena itu, training yang dibutuhkan untuk sales sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan topik yang sedang populer. HR/L&D dan sales leader perlu melihat competency yang paling berpengaruh terhadap sales performance.

Dalam pendekatan PRESENTA, pengembangan sales perlu dekat dengan situasi customer yang benar-benar dihadapi peserta. Semakin relevan kasus dan simulasi yang digunakan, semakin mudah skill diterapkan kembali dalam aktivitas penjualan.


2. Skill apa yang perlu dimiliki sales?

Sales perlu memiliki kombinasi selling, communication, customer understanding, negotiation, presentation, problem solving, dan relationship management.

Skill tersebut membantu sales tidak hanya menawarkan produk, tetapi memahami kebutuhan dan membangun value bagi customer.

Beberapa kemampuan penting antara lain:

Customer discovery. Sales perlu mampu menggali situasi, kebutuhan, masalah, serta prioritas customer melalui pertanyaan yang tepat.

Communication. Sales perlu menjelaskan informasi dengan jelas sekaligus mendengarkan customer secara aktif.

Value proposition. Sales perlu menghubungkan produk atau solusi dengan kebutuhan customer, bukan sekadar menjelaskan feature.

Presentation. Sales sering perlu menyampaikan proposal, solusi, atau rekomendasi secara terstruktur dan meyakinkan.

Negotiation. Sales perlu mengelola trade-off, harga, requirement, dan kepentingan kedua pihak.

Objection handling. Keberatan customer perlu dipahami sebelum dijawab.

Relationship management. Sales perlu membangun hubungan yang mendukung repeat business dan account development.

Problem solving. Tidak semua kebutuhan customer dapat dijawab dengan solusi standar.

Salesforce dalam State of Sales 2026 menunjukkan bahwa sales representative masih membutuhkan lebih banyak coaching, feedback terhadap sales conversation, dan kesempatan melakukan role play sebelum berhadapan dengan customer.


3. Kapan sales membutuhkan training selling skills?

Sales membutuhkan training selling skills ketika proses penjualan belum berjalan secara konsisten, conversion rendah, discovery kurang dalam, atau sales terlalu cepat menawarkan produk sebelum memahami kebutuhan customer.

Beberapa indikatornya:

  • sales langsung melakukan pitching;
  • pertanyaan kepada customer masih terbatas;
  • kebutuhan customer tidak tergali;
  • pembicaraan terlalu fokus pada product feature;
  • value proposition kurang jelas;
  • objection sulit ditangani;
  • conversion dari opportunity ke deal rendah;
  • cara menjual berbeda terlalu jauh antar sales.

Selling skills training juga relevan ketika perusahaan:

  • mengubah sales process;
  • meluncurkan produk baru;
  • masuk ke segmen customer baru;
  • berpindah dari transactional selling menuju consultative selling;
  • meningkatkan kompleksitas solusi yang dijual.

McKinsey menunjukkan contoh pengembangan sales yang lebih efektif ketika program disesuaikan dengan skill yang benar-benar dibutuhkan sales dan menggunakan aktivitas yang terkait langsung dengan customer account mereka.

Jadi, selling skills training sebaiknya tidak berhenti pada generic sales technique, tetapi berkaitan dengan sales process yang benar-benar digunakan perusahaan.


4. Apakah sales perlu training communication?

Ya. Sales membutuhkan communication training karena proses penjualan sangat bergantung pada kemampuan bertanya, mendengarkan, menjelaskan value, menangani keberatan, dan membangun percakapan dengan customer.

Communication skill untuk sales dapat mencakup:

  • active listening;
  • questioning;
  • probing;
  • persuasive communication;
  • storytelling;
  • presentation;
  • handling difficult conversation;
  • written communication;
  • follow-up communication.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah sales terlalu banyak berbicara tanpa cukup memahami customer.

Communication training dapat membantu sales berpindah dari:

โ€œApa yang ingin saya jelaskan?โ€

menjadi:

โ€œApa yang perlu saya pahami dari customer sebelum menawarkan solusi?โ€

Pelatihan SMART Communication PRESENTA dapat menjadi salah satu referensi pengembangan kemampuan komunikasi yang kemudian disesuaikan dengan situasi sales.

PRESENTA melihat komunikasi sales bukan hanya kemampuan berbicara dengan percaya diri.

Sales juga perlu mampu mendengarkan, menggali kebutuhan, dan menyesuaikan pesan berdasarkan customer yang dihadapi.


5. Apakah sales perlu training negotiation?

Ya. Sales membutuhkan negotiation training ketika mereka perlu menyepakati harga, scope, terms, timeline, atau bentuk kerja sama dengan customer.

Negotiation membantu sales menjaga value sekaligus mencari kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.

Sales perlu memahami bahwa negotiation bukan sekadar:

โ€œSeberapa besar diskon yang bisa diberikan?โ€

Mereka juga perlu mempertimbangkan:

  • customer priority;
  • value yang ditawarkan;
  • trade-off;
  • alternative;
  • authority;
  • concession;
  • relationship;
  • profitability.

Training negotiation menjadi semakin relevan ketika:

  • sales sering memberikan diskon terlalu cepat;
  • customer terus menekan harga;
  • deal melibatkan banyak stakeholder;
  • produk atau solusi kompleks;
  • kontrak memiliki banyak variabel;
  • sales perlu mempertahankan margin.

Sales juga perlu mampu membedakan antara menjual dan bernegosiasi.

Selling membantu customer melihat value. Negotiation membantu kedua pihak menyepakati kondisi kerja sama setelah value tersebut dipahami.


6. Bagaimana menentukan kebutuhan training tim sales?

Kebutuhan training tim sales ditentukan dengan menghubungkan target bisnis, sales process, performance data, competency yang dibutuhkan, dan gap kemampuan sales saat ini.

Analisis sebaiknya dilakukan sebelum memilih program.

Gunakan alur:

Business Target โ†’ Sales Performance โ†’ Sales Behavior โ†’ Competency Gap โ†’ Learning Solution

Contohnya:

Masalah BisnisPerilaku yang Perlu DilihatCompetency
Conversion rendahDiscovery kurang dalamConsultative Selling
Deal banyak berhentiFollow-up lemahSales Communication
Margin turunDiskon terlalu cepatNegotiation
Proposal kurang kuatValue sulit dijelaskanPresentation
Existing account stagnanTidak ada account developmentAccount Management

Data yang dapat digunakan antara lain:

  • conversion rate;
  • sales pipeline;
  • win/loss analysis;
  • average deal size;
  • sales call observation;
  • manager feedback;
  • customer feedback;
  • competency assessment.

Tidak semua masalah sales otomatis merupakan training issue.

Performance juga dapat dipengaruhi oleh:

  • product-market fit;
  • pricing;
  • lead quality;
  • territory;
  • sales process;
  • incentive;
  • tools;
  • availability produk.

PRESENTA menganjurkan perusahaan mencari akar performance gap sebelum menentukan training.

Dengan begitu, program tidak digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya berasal dari faktor lain.


7. Apakah training sales untuk sales baru dan senior sebaiknya berbeda?

Ya. Sales baru biasanya membutuhkan fundamental selling dan pemahaman sales process, sedangkan sales senior lebih membutuhkan kemampuan menangani customer, account, negotiation, dan situasi penjualan yang semakin kompleks.

Perbedaannya dapat digambarkan seperti berikut:

Sales BaruSales Senior
Product knowledgeStrategic account understanding
Selling fundamentalsConsultative selling
Basic communicationExecutive communication
Basic objection handlingComplex objection handling
Basic negotiationAdvanced negotiation
Sales processAccount strategy
ProspectingAccount development

Namun, lama bekerja tidak selalu sama dengan proficiency.

Sales senior masih dapat membutuhkan fundamental selling jika proses discovery atau value communication belum konsisten.

Sebaliknya, sales baru dengan pengalaman sebelumnya mungkin sudah memiliki skill tertentu.

Karena itu, segmentasi peserta sebaiknya mempertimbangkan:

  • experience;
  • competency;
  • role;
  • customer complexity;
  • sales responsibility.

Bukan hanya tenure.


8. Bagaimana membuat program training sales?

Program training sales sebaiknya menggabungkan assessment, skill building, praktik, workplace application, coaching, dan evaluasi.

Tujuannya agar peserta tidak hanya memahami sales technique tetapi mampu menggunakannya dalam percakapan dengan customer.

Salah satu struktur yang dapat digunakan:

Tahap 1 โ€” Sales Capability Assessment

Identifikasi:

  • performance gap;
  • competency gap;
  • sales process;
  • customer challenge;
  • participant profile.

Tahap 2 โ€” Core Skill Development

Materi dapat mencakup:

  • discovery;
  • consultative selling;
  • communication;
  • presentation;
  • objection handling;
  • negotiation.

Tahap 3 โ€” Practice

Gunakan:

  • role play;
  • sales simulation;
  • case discussion;
  • pitch practice.

Tahap 4 โ€” Workplace Application

Peserta menerapkan skill pada:

  • customer meeting;
  • proposal;
  • negotiation;
  • account planning;
  • follow-up.

Tahap 5 โ€” Coaching

Sales manager atau coach memberikan feedback terhadap application.

Tahap 6 โ€” Evaluation

Evaluasi perubahan behavior dan sales performance yang relevan.

McKinsey menekankan pentingnya capability building yang memadukan pembelajaran dengan on-the-job application.

Pendekatan โ€œfield and forumโ€ menggabungkan classroom learning dengan penerapan di lapangan agar perubahan lebih berkelanjutan.

Dalam merancang program sales, PRESENTA menekankan keseimbangan antara framework dan practice.

Skill komunikasi dan selling sulit berkembang jika peserta hanya menerima materi tanpa berlatih menghadapi situasi customer.


9. Bagaimana menghubungkan sales training dengan target bisnis?

Sales training dihubungkan dengan target bisnis dengan menentukan terlebih dahulu performance outcome yang ingin diperbaiki, kemudian mengidentifikasi sales behavior dan competency yang memengaruhi outcome tersebut.

Gunakan alur:

Business Target โ†’ Sales KPI โ†’ Critical Behavior โ†’ Capability โ†’ Training

Contohnya:

Business TargetSales KPICapability
Meningkatkan revenueConversion rateSelling Skills
Mempertahankan marginDiscount levelNegotiation
Mengembangkan accountRevenue per accountAccount Management
Meningkatkan proposal winWin ratePresentation & Value Selling
Mempercepat dealSales cycleDiscovery & Qualification

Misalnya, perusahaan ingin meningkatkan conversion.

Training tidak langsung dipilih dengan judul โ€œSales Trainingโ€.

HR/L&D bersama sales leader perlu mencari:

  • pada tahap mana conversion turun;
  • behavior apa yang belum konsisten;
  • apakah gap berasal dari discovery;
  • qualification;
  • presentation;
  • follow-up;
  • objection handling;
  • atau negotiation.

Baru setelah itu learning objective ditentukan.

McKinsey menekankan bahwa sales capability building akan lebih kuat ketika program diarahkan pada akar masalah yang membatasi sales performance dan terkait dengan strategic growth priorities.


10. Bagaimana mengevaluasi keberhasilan sales training?

Keberhasilan sales training sebaiknya dievaluasi dari learning, perubahan sales behavior, penerapan skill di lapangan, dan business metric yang berkaitan dengan tujuan program.

Attendance dan satisfaction saja belum cukup.

Evaluasi dapat mencakup:

Learning. Apakah peserta memahami skill dan framework yang diberikan?

Practice. Apakah peserta dapat menggunakannya dalam role play atau simulation?

Behavior. Apakah skill mulai digunakan dalam customer interaction?

Performance. Apakah indikator sales yang terkait mulai berubah?

Contoh indikator:

TrainingIndikator yang Dapat Dilihat
Consultative SellingDiscovery quality, conversion
NegotiationDiscount level, margin
PresentationProposal effectiveness, win rate
Account ManagementAccount growth
ProspectingQualified opportunity
CoachingSales behavior consistency

Perusahaan perlu berhati-hati menyimpulkan bahwa perubahan revenue hanya berasal dari training karena performance sales juga dipengaruhi banyak faktor lain.

Namun, perusahaan tetap dapat melihat hubungan antara:

  • competency improvement;
  • behavior change;
  • sales KPI.

McKinsey mencatat bahwa organisasi yang lebih kuat dalam sales capability building tidak hanya mengukur participation atau completion, tetapi juga menghubungkan pengembangan capability dengan commercial results.


11. Apakah sales manager perlu dilibatkan dalam sales training?

Ya. Sales manager sebaiknya dilibatkan karena mereka memiliki peran penting dalam memperkuat skill setelah training melalui observation, feedback, coaching, dan follow-up terhadap performance sales.

Peran sales manager dapat dimulai sejak sebelum training.

Mereka dapat membantu:

  • mengidentifikasi performance gap;
  • menentukan priority skill;
  • memberikan contoh kasus;
  • mengobservasi behavior;
  • memberikan coaching;
  • memonitor application.

Setelah kelas selesai, sales manager dapat menggunakan:

  • call review;
  • opportunity review;
  • role play;
  • coaching conversation;
  • pipeline discussion;
  • field observation.

Dengan demikian, training tidak menjadi event yang terpisah dari pekerjaan.

Salesforce dalam State of Sales 2026 menemukan bahwa banyak sales representative menginginkan coaching, feedback terhadap percakapan penjualan, dan lebih banyak kesempatan melakukan role play.

Bagi PRESENTA, keterlibatan manager dapat menjadi penghubung penting antara classroom learning dengan workplace application.

Manager membantu menjaga agar skill yang dipelajari tetap digunakan setelah peserta kembali bekerja.


12. Bagaimana memastikan skill dari sales training diterapkan di lapangan?

Skill dari sales training lebih mungkin diterapkan ketika peserta mendapat kesempatan praktik, action plan, coaching, feedback, dan reinforcement setelah kelas selesai.

Training satu kali tanpa follow-up berisiko membuat peserta kembali ke kebiasaan lama.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan:

  • customer assignment;
  • sales call practice;
  • account planning;
  • role play lanjutan;
  • coaching oleh manager;
  • observation;
  • peer review;
  • refresher;
  • microlearning.

Contohnya, setelah training consultative selling peserta dapat diminta:

  1. memilih satu opportunity aktual;
  2. menyiapkan discovery question;
  3. melakukan customer conversation;
  4. mencatat insight;
  5. mendiskusikan hasil dengan manager;
  6. menerima feedback;
  7. memperbaiki pendekatan pada percakapan berikutnya.

McKinsey memberi contoh program sales capability yang menghubungkan classroom learning dengan aktivitas pada customer account aktual serta coaching dari sales manager.

Pendekatan seperti ini membantu mengubah training dari learning event menjadi proses perubahan behavior.


Bagaimana PRESENTA Membantu?

PRESENTA membantu perusahaan merancang training yang dibutuhkan untuk sales berdasarkan target bisnis, sales process, competency gap, karakter customer, dan profil peserta.

Area pengembangan dapat mencakup:

  • selling skills;
  • communication;
  • presentation;
  • negotiation;
  • problem solving;
  • customer handling;
  • leadership untuk sales manager;
  • coaching.

PRESENTA dapat mendukung kebutuhan tersebut melalui:

  • In House Training;
  • Training Consulting;
  • Assessment;
  • Learning Consulting;
  • Team Coaching;
  • LMS & System Development;
  • Content Development.

Untuk kemampuan yang mendukung proses penjualan, perusahaan juga dapat mempertimbangkan Pelatihan SMART Communication PRESENTA dan Pelatihan SMART Presentation PRESENTA.

Dalam pengembangan sales, PRESENTA mendorong penggunaan case, role play, dan situasi customer yang relevan dengan pekerjaan peserta.

Pendekatan tersebut membantu training lebih dekat dengan sales conversation yang sebenarnya.


Langkah Selanjutnya

Setelah menentukan training yang dibutuhkan untuk sales, tahap berikutnya adalah memetakan performance gap, sales behavior, dan competency yang paling berpengaruh terhadap target bisnis.

Jika perusahaanmu sedang menyusun program pengembangan tim sales, PRESENTA dapat membantu melalui Training Consulting, Assessment, In House Training, Coaching, serta learning solution yang disesuaikan dengan sales process dan kebutuhan organisasi.

Hubungi Training Consultant PRESENTA dengan klik gambar di bawah ini.

Training Consultant PRESENTA


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *