Ringkasan singkat: Training apa yang cocok untuk staff bergantung pada tuntutan pekerjaan, competency gap, pengalaman, dan rencana pengembangan masing-masing karyawan.
Secara umum, staff dapat membutuhkan kombinasi technical skill, communication, problem solving, collaboration, personal effectiveness, hingga leadership readiness.
Daftar Isi
FAQ Corporate Training: Training Apa yang Cocok untuk Staff?

1. Training apa yang cocok untuk staff?
Training apa yang cocok untuk staff ditentukan dari pekerjaan yang dilakukan, competency gap, level pengalaman, dan kemampuan yang perlu dikembangkan untuk mencapai target kerja.
Tidak semua staff membutuhkan jenis training yang sama.
Secara umum, program pengembangan staff dapat mencakup:
- communication skill;
- presentation skill;
- problem solving;
- teamwork dan collaboration;
- time management;
- personal effectiveness;
- customer service;
- negotiation;
- digital dan technical skill;
- leadership readiness.
Pemilihannya perlu dikaitkan dengan situasi kerja.
| Kondisi Staff | Training yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|
| Banyak berkoordinasi dengan orang lain | Communication |
| Rutin menyampaikan laporan atau ide | Presentation Skill |
| Sering menghadapi masalah operasional | Problem Solving |
| Berhadapan langsung dengan pelanggan | Service Excellence |
| Kesulitan mengatur prioritas | Time Management |
| Dipersiapkan naik jabatan | Leadership Readiness |
Karena itu, pertanyaan training apa yang cocok untuk staff sebaiknya tidak dijawab hanya dengan daftar topik populer.
HR/L&D perlu mengetahui kemampuan apa yang dibutuhkan karyawan dalam pekerjaannya.
Menurut PRESENTA, program pengembangan staff sebaiknya berangkat dari kebutuhan pekerjaan dan competency gap peserta.
Dengan begitu, training memiliki konteks penerapan yang jelas setelah peserta kembali bekerja.
2. Apa saja kompetensi yang perlu dimiliki staff?
Staff perlu memiliki kombinasi technical competency dan transferable skill agar dapat menjalankan pekerjaannya secara efektif sekaligus beradaptasi dengan perubahan pekerjaan.
Kompetensi yang dibutuhkan tetap berbeda berdasarkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing.
Beberapa competency yang sering relevan antara lain:
- communication;
- analytical thinking;
- problem solving;
- collaboration;
- adaptability;
- digital literacy;
- self-management;
- customer orientation;
- presentation;
- continuous learning.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan analytical thinking, resilience, flexibility and agility, leadership and social influence, serta creative thinking di antara core skills yang dinilai penting oleh perusahaan.
Technological literacy, empathy and active listening, serta curiosity and lifelong learning juga termasuk dalam daftar tersebut.
Namun, daftar competency global tersebut tetap perlu diterjemahkan ke dalam kebutuhan pekerjaan perusahaan.
Contohnya, staff finance dan staff customer service sama-sama membutuhkan communication skill, tetapi situasi penggunaannya berbeda.
3. Apakah staff membutuhkan training leadership?
Ya, staff dapat membutuhkan training leadership meskipun belum memiliki anggota tim.
Leadership untuk staff dapat difokuskan pada self-leadership, initiative, collaboration, accountability, influencing, dan kesiapan menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.
Leadership development tidak harus dimulai ketika seseorang sudah menjadi supervisor.
Untuk staff, fokusnya dapat berupa:
- mengenali tanggung jawab pribadi;
- mengambil ownership;
- menyampaikan ide;
- bekerja sama dalam tim;
- memberikan pengaruh tanpa authority formal;
- mengambil inisiatif;
- membuat keputusan dalam scope pekerjaannya.
Staff yang masuk talent pool atau dipersiapkan menjadi supervisor dapat memperoleh materi tambahan seperti:
- delegation;
- memberikan feedback;
- basic coaching;
- people management;
- leadership communication.
Jadi, training apa yang cocok untuk staff dalam konteks leadership perlu disesuaikan dengan readiness peserta, bukan langsung memberikan materi leadership yang terlalu managerial.
4. Training soft skill apa yang penting untuk staff?
Soft skill penting untuk staff adalah kemampuan yang membantu mereka berkomunikasi, berkolaborasi, menyelesaikan masalah, mengelola pekerjaan, dan beradaptasi dalam berbagai situasi kerja.
Beberapa topik yang dapat diprioritaskan:
1. Communication Skill
Membantu staff menyampaikan informasi, bertanya, mendengarkan, dan melakukan koordinasi secara lebih efektif.
2. Problem Solving
Membantu peserta menganalisis penyebab masalah dan menentukan tindakan yang tepat.
3. Time Management
Membantu staff mengatur prioritas dan mengelola pekerjaan.
4. Teamwork dan Collaboration
Penting ketika pekerjaan membutuhkan koordinasi lintas individu maupun fungsi.
5. Presentation Skill
Relevan bagi staff yang perlu mempresentasikan laporan, ide, proposal, atau hasil pekerjaan.
6. Adaptability
Membantu peserta menghadapi perubahan proses, teknologi, maupun tanggung jawab.
Program seperti Pelatihan SMART Communication PRESENTA dan Pelatihan SMART Presentation PRESENTA dapat menjadi contoh pengembangan soft skill yang disesuaikan dengan tuntutan pekerjaan peserta.
Soft skill yang dipilih tetap perlu mempunyai hubungan langsung dengan aktivitas kerja.
5. Apakah training harus disesuaikan dengan fungsi pekerjaan?
Ya. Training perlu disesuaikan dengan fungsi pekerjaan ketika competency, situasi kerja, dan expected behavior setiap fungsi berbeda.
Topik yang sama bahkan dapat membutuhkan kasus dan aktivitas yang berbeda untuk kelompok peserta yang berbeda.
Contohnya:
| Fungsi | Contoh Kebutuhan Training |
|---|---|
| Sales | Selling, negotiation, presentation |
| Customer Service | Communication, service excellence, complaint handling |
| Finance | Analytical thinking, presentation, communication |
| HR | Communication, interviewing, facilitation |
| Operations | Problem solving, safety, process improvement |
| Project Team | Collaboration, project management, problem solving |
Communication skill dapat diberikan kepada seluruh fungsi.
Namun, staff customer service mungkin berlatih menghadapi pelanggan, sedangkan staff finance berlatih menjelaskan informasi kepada stakeholder internal.
Menurut PRESENTA, penyesuaian training tidak selalu berarti membuat program yang sepenuhnya berbeda.
Materi inti dapat sama, sementara studi kasus, role play, dan konteks praktik disesuaikan dengan pekerjaan peserta.
6. Bagaimana menentukan kebutuhan training untuk staff?
Kebutuhan training untuk staff ditentukan dengan membandingkan competency yang dibutuhkan dalam pekerjaan dengan competency yang dimiliki saat ini.
Gap tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan apakah training merupakan solusi yang tepat.
Langkah sederhananya:
- Tentukan business atau performance need.
- Identifikasi tanggung jawab staff.
- Petakan competency yang dibutuhkan.
- Nilai kemampuan saat ini.
- Identifikasi competency gap.
- Tentukan prioritas pengembangan.
- Pilih learning intervention yang sesuai.
Tidak semua performance gap harus diselesaikan dengan training.
Masalah juga dapat berasal dari:
- proses yang tidak jelas;
- tools yang tidak memadai;
- target yang tidak realistis;
- kurangnya feedback;
- struktur kerja;
- keterbatasan sumber daya.
SHRM melalui panduan Training Needs Assessment menjelaskan bahwa kebutuhan pengembangan perlu diidentifikasi secara sistematis agar organisasi dapat menemukan capability gap serta menentukan intervensi yang sesuai.
Karena itu, menentukan training apa yang cocok untuk staff perlu dimulai dari diagnosis kebutuhan, bukan langsung memilih judul kelas.
7. Kapan staff membutuhkan training komunikasi?
Staff membutuhkan training komunikasi ketika pekerjaannya menuntut koordinasi, penyampaian informasi, interaksi dengan stakeholder, pelayanan pelanggan, atau penyelesaian miskomunikasi yang berulang.
Beberapa indikatornya:
- informasi sering tidak tersampaikan dengan jelas;
- koordinasi lintas fungsi kurang efektif;
- staff kesulitan menjelaskan ide;
- banyak terjadi misunderstanding;
- komunikasi tertulis kurang terstruktur;
- peserta sering menghadapi customer atau stakeholder;
- staff perlu memberikan update dan laporan.
Kebutuhan komunikasi juga berbeda berdasarkan pekerjaan.
Staff customer service mungkin membutuhkan active listening dan handling difficult conversation, sementara staff project membutuhkan koordinasi dan stakeholder communication.
Training komunikasi menjadi lebih relevan ketika HR dapat menghubungkannya dengan situasi kerja yang nyata.
8. Kapan staff membutuhkan training problem solving?
Staff membutuhkan training problem solving ketika pekerjaannya menuntut mereka mengenali masalah, mencari akar penyebab, menentukan alternatif solusi, dan mengambil tindakan dalam scope tanggung jawabnya.
Beberapa tandanya:
- masalah yang sama terus berulang;
- staff terlalu cepat menyimpulkan penyebab masalah;
- keputusan selalu menunggu atasan;
- solusi hanya mengatasi gejala;
- peserta kesulitan menentukan prioritas masalah;
- pekerjaan membutuhkan analisis data atau situasi.
Training problem solving untuk staff tidak harus menggunakan kasus strategis yang kompleks.
Peserta dapat berlatih melalui masalah yang dekat dengan pekerjaan, seperti:
- keterlambatan proses;
- kesalahan administrasi;
- customer complaint;
- koordinasi yang tidak berjalan;
- target operasional yang tidak tercapai.
Dengan begitu, pembelajaran lebih mudah diterapkan setelah program selesai.
9. Bagaimana membuat program pengembangan untuk staff?
Program pengembangan staff dibuat dengan menghubungkan kebutuhan perusahaan, competency yang diperlukan dalam pekerjaan, performance gap, serta kesiapan karyawan untuk tanggung jawab berikutnya.
Program dapat disusun dalam beberapa tahap:
1. Assess
Identifikasi competency saat ini melalui performance review, assessment, observasi, interview, atau input atasan.
2. Prioritize
Tentukan competency yang paling penting terhadap pekerjaan dan business need.
3. Develop
Gunakan kombinasi metode seperti:
- training;
- coaching;
- mentoring;
- e-learning;
- project assignment;
- job rotation;
- workplace practice.
4. Apply
Berikan kesempatan kepada peserta menerapkan competency di tempat kerja.
5. Evaluate
Lihat perubahan perilaku dan dampaknya terhadap pekerjaan.
Program pengembangan staff tidak harus berupa rangkaian training saja.
Menurut PRESENTA, learning intervention sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan pengembangan.
Training dapat menjadi salah satu bagian dari learning journey bersama assessment, coaching, assignment, dan aktivitas pembelajaran lainnya.
10. Apa perbedaan training staff baru dan staff berpengalaman?
Training staff baru biasanya lebih fokus pada foundational capability dan adaptasi terhadap pekerjaan, sedangkan staff berpengalaman lebih membutuhkan peningkatan proficiency, problem solving yang lebih kompleks, atau persiapan menuju tanggung jawab berikutnya.
Perbedaannya dapat digambarkan sebagai berikut:
| Staff Baru | Staff Berpengalaman |
|---|---|
| Adaptasi dengan pekerjaan | Peningkatan proficiency |
| Basic communication | Advanced communication |
| Fundamental skill | Complex problem solving |
| Pemahaman proses | Process improvement |
| Personal effectiveness | Cross-functional collaboration |
| Role clarity | Leadership readiness |
Namun, masa kerja tidak selalu menentukan kemampuan.
Staff yang sudah lama bekerja masih dapat memiliki competency gap tertentu. Sebaliknya, staff baru dengan pengalaman sebelumnya mungkin sudah mempunyai proficiency yang tinggi.
Karena itu, training apa yang cocok untuk staff tetap perlu ditentukan melalui kebutuhan aktual peserta, bukan hanya berdasarkan lama bekerja.
11. Apakah semua staff perlu mengikuti training yang sama?
Tidak. Semua staff tidak harus mengikuti training yang sama karena fungsi pekerjaan, competency gap, pengalaman, dan target pengembangan setiap kelompok dapat berbeda.
Program yang terlalu seragam berisiko:
- terlalu dasar bagi sebagian peserta;
- terlalu sulit bagi peserta lain;
- tidak relevan dengan pekerjaan tertentu;
- menggunakan studi kasus yang kurang sesuai;
- menghasilkan learning objective yang terlalu umum.
Perusahaan dapat mengelompokkan peserta berdasarkan:
- fungsi;
- competency gap;
- proficiency;
- pengalaman;
- career level;
- kebutuhan business;
- target pengembangan.
Namun, beberapa competency tetap dapat diberikan secara lintas fungsi jika kebutuhannya sama.
Contohnya, communication, collaboration, atau personal effectiveness.
Jadi, perusahaan tidak harus membuat program berbeda untuk setiap posisi. Yang perlu dijaga adalah kesamaan learning need peserta dalam satu program.
12. Training apa yang cocok untuk staff yang dipersiapkan menjadi supervisor?
Staff yang dipersiapkan menjadi supervisor membutuhkan training yang membantu transisi dari individual contributor menuju people leader.
Fokus pengembangannya bukan hanya meningkatkan skill saat ini, tetapi membangun competency yang dibutuhkan pada peran berikutnya.
Topik yang dapat dipertimbangkan:
- leadership readiness;
- supervisory skill;
- delegation;
- giving feedback;
- coaching;
- communication for leaders;
- conflict management;
- decision making;
- performance management.
Perusahaan juga dapat melengkapinya dengan:
- assessment;
- mentoring;
- job shadowing;
- project leadership;
- acting assignment;
- coaching.
Tujuannya agar calon supervisor mulai memahami bahwa keberhasilan pada level berikutnya tidak hanya berasal dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan sendiri.
Peserta perlu belajar mencapai hasil melalui koordinasi dan pengembangan orang lain.
Dalam konteks ini, training apa yang cocok untuk staff juga perlu mempertimbangkan future role, bukan hanya current role.
Bagaimana PRESENTA Membantu?
PRESENTA membantu perusahaan menentukan training apa yang cocok untuk staff berdasarkan business need, competency gap, tuntutan pekerjaan, profil peserta, dan tujuan pengembangan karyawan.
Program dapat diarahkan pada berbagai kebutuhan, seperti:
- communication;
- presentation;
- problem solving;
- personal effectiveness;
- collaboration;
- leadership readiness;
- functional development.
PRESENTA menyediakan solusi melalui:
- Training: In House Training dan Public Training;
- Team Development: Team Coaching, Private Coaching, dan Team Building;
- Consulting: Training Consulting, Learning Consulting, serta HR & OD;
- Assessment;
- LMS & System Development;
- Content Development.
Perusahaan juga dapat melihat berbagai pilihan pelatihan PRESENTA untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan staff.
Menurut PRESENTA, pemilihan program sebaiknya tidak dimulai dari katalog training, tetapi dari kemampuan apa yang perlu dimiliki peserta untuk menjalankan pekerjaannya secara lebih efektif.
Langkah Selanjutnya
Setelah menentukan training apa yang cocok untuk staff, tahap berikutnya adalah memetakan competency gap dan menentukan prioritas pengembangan agar program tidak berhenti pada kegiatan training saja.
Jika perusahaanmu sedang menyusun program pengembangan staff, PRESENTA dapat membantu melalui Training Consulting, Assessment, In House Training, serta solusi learning & development yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Hubungi Training Consultant PRESENTA dengan klik gambar di bawah ini.





